06 Oktober 2012

Journey to The Holy Penanggungan Mountain


Gunung Suci Penanggungan

“Waktu meninggalkan Jajawa ia menuju Padhameyan,
berhenti di Cunggrang untuk menikmati keindahan alam di hutan,
kemudian berkunjung ke sebuah tempat resi di lereng gunung Pawitra”


Narsis di Candi Guru
Itu terjemahan  kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca  yang menclok di buku Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca karya Pak Hadi Sidomulyo (Nigel Bullough).  Di situ ada kata “Pawitra”. Para ahli menyebutkan bahwa Pawitra ialah Gunung Penanggungan. Bagi saya gunung ini keren, Raja Hayam Wuruk saja sampai pergi ke sana dan menikmati pemandangan, lalu berkunjung ke seorang resi.
Tidak hanya dalam Negarakertagama, dalam kitab Tantu Panggelaran pun Pawitra disebut-sebut sebagai gunung suci. Konon, Gunung Penanggungan ialah puncak Mahameru yang dipotong untuk menyeimbangkan Pulau Jawa. Sedangkan Mahameru sendiri ialah  gunung yang dipindahkan para dewa dari India (Jambudhipa) karena resah melihat Jawa (Jawadhipa) masih terombang-ambing di tengah samudera.
Beberapa Situs Candi
Sebagai bukti bahwa Gunung Penanggungan ialah gunung suci ialah kini kita bisa melihat banyaknya peninggalan bersejarah di situ. Tahun 1951 saja Van Romondt berhasil mencatat 81 situs purbakala, termasuk goa pertapaan, candi-candi yang kebanyakan punden berundak, gapura, juga petirtaan. Sayangnya saat ini yang bisa dijumpai hanya sekitar 40-an dan dengan kondisi yang sangat buruk, itu pun arca-arcanya sudah banyak yang hilang digasak maling.
Medan Menuju Beberapa Situs
Kebetulan beberapa minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi lebih dari 20 situs dalam seminggu, bahkan beberapa di antaranya ada yang belum terpetakan (belum ada di peta Belanda). Tapi, ya kondisinya buruk, misalnya ada goa yang sudah tertutup semak dan akar-akar, lalu ada reruntuhan candi dengan relief-relief yang cantik.  Uhh senangnya! Lebih senang lagi ketika kita sedang berjalan di tanjakan batu, tapi ternyata itu adalah tanjakan yang disusun orang-orang jaman dulu untuk menuju ke candi. Wow! Masih ada yang lebih wow lagi, diperkirakan candi-candi itu saling berkait karena ditemukan batu-batu sebagai jalur penghubung antara satu candi dengan candi lain. Ahh saya terkesima, tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk utuh bangunan-bangunan berelief indah itu berabad-abad yang lalu!
Ini awang-awang saya saja, seandainya dicari lebih serius, diteliti lebih dalam, mungkin situs yang ditemukan lebih banyak. Mungkin bisa tembus angka 100. Hehe.. Iya sih susah, tapi ini kan peninggalan masa lalu, cikal bakal Indonesia juga. Sedih melihat batu-batu indah itu disusun sembarangan (asal berbentuk), ada yang terkubur, dsb.
Diskusi dengan Pak Hadi
Pantas saja saya jatuh cinta dengan Gunung Penanggungan. Bagi saya, Penanggungan itu eksotik. Bentuknya kerucut sempurna bak miniatur Mahameru, bentang alamnya menunjukkan bahwa ini adalah bekas Gunung Api Tua, situs-situsnya yang bertebaran membuat saya seolah kembali ke masa silam dan ikut merasakan hawa kejayaan Majapahit. Kecintaan itu datang dengan sendirinya meskipun kata orang Gunung berketinggian 1659 itu cadas, panas, dan tidak eksotik. Ada semacam panggilan hati. Misterius. Makanya saya bersyukur sekali ketika mendapat kesempatan menemani Pak Hadi untuk memetakan ulang candi-candi dan sekalian membantu Pak Kusworo untuk mewujudkan Penanggungan Archeological Trail.
Cara yang paling tepat adalah mengunjungi candi-candi perblok, dan blok lainnya pada waktu yang lain. Bisa dibilang ada 3 blok besar candi: blok Gajahmungkur, Bekel, dan Kedungudi. Di blok Gajahmungkur sendiri kita bisa menemui sekitar 7 situs, bahkan bisa lebih kalau mau sedikit susah sekalian eksplor sisi baratnya bisa bertemu belasan situs.
so serious
Di blok Bekel, sebenarnya ada dua jalur: jalur pertama yakni menuju ke Candi Kendalisodo lalu ke puncak Bekel lalu mengarah ke candi-candi di jalur Jolotundo; jalur kedua nanti bisa ketemu beberapa situs candid an goa yang lumayan eksotis karena di atasnya tumbuh pohon amat besar, hanya saja jalurnya sudah tertutup sehingga kita harus melipir jurang. Sedangkan blok Kedungudi kita bisa naik dulu ke puncak lalu turun lewat jalur Kedungudi, nanti banyak sekali candi-candi yang akan kita temui.
Pokoknya Gunung Penanggungan ini cocok sekali sebagai tempat pendakian bertema arkeologi. Mendaki dan tiba di puncak sudah biasa, tapi mendaki gunung hingga ke puncak lalu turun melewati jalur candi-candi itu luar biasa. Jangan lupa untuk mempersiapkan waktu, kekuatan dan ketahan fisik, serta pemandu.
Tim Arkeologi divisi hore :p



18 komentar:

  1. Senang baca artikel ini. Dulu kita pertama mendaki bareng ke puncak penanggunan ini. melihatmu begitu payah menikmati tanjakan terjal yg tidak terlalu tinggi. hanya setengahnya dari Arjuno Welirang. (catpernya ada dibukuku lho :)..... )

    kalo g salah om Dody pernah meneliti situs2 di penanggungan untuk bahan skripsinya dari Arkeologi UI. coba deh dikontak siapa tau ada informasi baru.

    jadi inget buku Arok-Dedes nya Pramoedya. settingnya di sekitar gunung ini.

    BalasHapus
  2. Rul, ini acara pamerannya kapan? Kabari aku ya! Aku minat banget!

    BalasHapus
  3. @Cak Hans: gimana ndak payah, kan sehari sebelumnya aku baru turun dari Arjuno-Welirang. Thanks atas pendakian pertamaku kesana ya Mas. Setelahnya aku selalu terpanggil untuk naik dan naik lagi.
    Aku dan tim ada buku penelitian dari BP3 kok, itu juga sudah termasuk penamaan kembali candi2 yg dilakukan keluarga alumni arkeologi UI.


    @Mas Ayos: Pamerannya tanggal 1-3 November di Ubaya Training Centre, Trawas mas. Nanti aku SMS-in.

    BalasHapus
  4. maaf...mohon info untuk perijinan serta rute untuk pendakian Penanggungan via Jolotundo...terima kasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo jalur jolotundo naiknya juga dari candi jolotundo, start pendakiannya ada di depan gerbang candi, sebelah kiri, tangga naik. Nanti ada jalan yang lurus ke arah puncak sama yg melipir ke kiri sebelah jurang (ke G.Bekel), ambil yang lurus aja, jalannya jelas kok, nanti bakal ketemu beberapa candi :)

      Hapus
    2. Kebetulan minggu depan saya mau naik melewati jalur Jolotundo. Terimakasih untuk petunjuknya mbak Nurul.

      Hapus
  5. kalo jalur dari sumber suko pandaan, setelah suwoyuo,,,,terus ambil arah kiri ya,,,,soalnya saya lupa jalurnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama.. lupa juga. haha. jarang lewat situ :)))

      Hapus
  6. kalo mau lewat jolotundo ini adakah petunjutk arah atau rute yang tidak membuat kita tersesat

    BalasHapus
    Balasan
    1. kurang tau kalau sekarang ya, dulu sih seingat saya kurang begitu jelas penunjuk arahnya..
      asal udah nemu candi2 jalurnya sudah lumayan jelas..
      soalnya pas ekspedisi ini saya ga lewat jolotundo sama sekali

      Hapus
  7. mungkin bulan oktober ini , mahasiswa arkeologi UGM mau mengadakan ekspedisi lg ke penanggungan dg membawa setidaknya 20an pendaki yang dibagi dalam 4 tim, adakah laporan ekspedisi dari mbk Nurul untuk menjadi acuan?
    atau area mana yg mungkin bisa saya telusuri..
    mohon bantuannya.. :)

    bisa bls ke email saya .. donie.jr@gmail.com

    BalasHapus
  8. apa ada yang tahu candi apa saja yang di sisi timur penanggungan lewat wonosunyo? mohon info.....

    BalasHapus
  9. untuk candi yang masih ada relioefnya mana saja mbak nurul??? soalnya mau ambil gambarnya mbak. terima kasih banyak.

    BalasHapus
  10. Sampean kapan mau mendaki lagi ke sana mbak? Kalau ada rencana ke sana lagi saya mau ikut dong, saya juga pengen melihat candi-candi selain yg ada di jalur Jolotundo.

    BalasHapus
  11. wah asik nih tempatnya. bisa mendaki gunung sambil liat candi :D

    BalasHapus
  12. Buku mengenai situs2 di Penanggungn sudah terbit. Ditulis oleh Pak Hadi Sidomulyo :)

    BalasHapus
  13. info bulan mei 2014 jalan di lereng barat penanggungan tertutup semak belukar dan pohon kecil cukup sulit di lalui

    BalasHapus
  14. ada peta situs-situsnya yang bisa diakses?

    BalasHapus