30 Agustus 2012

Mbolang Mencari Coban Wilis


Coban Wilis yang Tak Pasti
coban wilis
Coban Wilis
Wajah yang tampak lelah dan masam itu tiba-tiba berubah sumringah ketika wajahnya menoleh ke kanan di sebuah kelokan di bibir jurang. “Hwaa… air terjun,” ujar Mba Omi senang dan terkejut. Dan keterkejutan itu menimpa kami berlima. Air terjun yang mengalir ke jurang di depan kami itu mungkin Coban Wilis yang kami cari. Tapi kami tidak tahu persis. Hanya saja coban ini merupakan coban terdekat di antara dua coban yang lain yang kami lihat sejak di tanjakan terakhir di bukit yang kami lewati sebelum kami tiba di kelokan ini.
Berjam-jam sudah kami berjalan sejak pukul 11.30 siang dari rumah Mbah Bejo, hingga kini pukul 16.00 di Kelok Kejut (kami namai seperti itu karena di kelokan ini penuh kejutan). Setelah kelokan itu ada setapak menurun yang tak kami tahu pasti di mana ujungnya. Semoga saja mengarah ke air terjun di depan kami, air terjun terdekat.
Biasanya wisatawan yang pergi ke coban biasa memarkir kendaraannya di Patokwesi, tanah lapang batas antara perladangan dengan hutan. Dan mereka biasanya tek-tok, yakni datang dan pulang dalam hari yang sama. Tidak begitu dengan kami, dua buah tenda beserta logistik sehari semalam sudah berada di ransel kami. Kami mau bermalam di sana, di tempat yang tak kami ketahui apakah ada tempat untuk mendirikan tenda atau tidak. Karena itu kami memilih memarkirkan kendaraan di rumah Mbah Bejo dan mencari jawab atas ketidaktahuan kami itu. Pak Kastoro (penemu air terjun) telah memberitahu kami kalau di atas tidak ada tempat buat kemping, apalagi di sekitar air terjun, di sana batu-batu semua. Tapi Mas Tovik dengan pedenya mengajak untuk kemping di sana, “Wes digowo ae tas’e, ndelok disek nang kono.”
Pemadangan dari Patokwesi
 Di Patokwesi, medan yang akan kami hadapi terlihat. Lima bukit menjulang dan harus kami lewati. Air terjun itu berada di ujung bukit kelima, di sebuah ceruk yang sepi. Siang itu begitu terik dan pepohonan rindang tak banyak. Belum lagi kami semua sedang kelaparan karena belum makan siang dan sebagian lain malah belum makan sejak pagi hari. Keinginan memasak sekadarnya (mie instan) pun kami urungkan karena persediaan air yang terbatas. Yap, kami hanya berjaga-jaga terhadap kemungkinan terburuk, misalnya kami tidak sampai di air terjun dan harus nenda di tempat lain yang belum tentu ada air karena kami di atas bukit, sedangkan air hanya mengalir di sungai jauh di dasar jurang sana.
Karena lapar, lelah, dan dalam tanda tanya seringkali kami mengimajinasikan hal-hal yang nggak jelas, misalnya “semangka ceblok (semangka jatuh)” dari pohon padahal pohon semangka kan tidak seperti pohon kelapa. Lalu, imajinasi lagi berharap pohon di pos III (pos sepoi-sepoi) itu berbuah rambutan yang banyak, dan lain sebagainya. Trek selanjutnya ialah melipir bukit dengan medan lumayan datar tapi sempit dan penuh semak tinggi.
Tiba di bukit keempat (mungkin) pemandangannya begitu indah. Puncak Sumbing yang tinggi menjulang tampak begitu kokoh dengan ditemani bukit-bukit lain yang sama kokoh hijau dan jurang-jurang yang menganga. Kami terpesona dengan sisi lain Gunung Kelud yang ada di utara Blitar ini. Pun begitu, suara air terjun samar-samar mulai terdengar. Saat itu kami berusaha agar tidak kecewa. “Itu suara angin,” kata salah satu teman entah siapa. Tapi setelah kami dengar lagi itu benar suara air terjun. “Tapi mana?” kata saya.
Dua air terjun lain
Di depan kami ada tanjakan yang kemudian kami beri nama Tanjakan Galau karena saat melewati tanjakan itu kita pasti merasa galau. Ada suara air terjun tapi tak tampak wujudnya. Lalu sedikit agak ke atas, air terjun tinggi tampak mengalir di tebing di seberang jurang di sisi kiri kami. “Waahh air terjunn,” kata kami senang. Tapi kemudian kami bertanya-tanya, benarkah itu air terjunnya, kalau benar bagaimana kami menuju ke sana karena kami dipisahkan jurang dalam, curam, dan jauh. Kalau harus memutar berarti perjalanan masih jauh. Hiks..
Lalu sedikit naik ke atas lagi di dasar jurang sebelah kanan ada air terjun bertingkat tiga yang begitu cantik. “Cakeepp,” desis kami. Tapi lagi-lagi kami galau karena tak mungkin juga untuk turun ke sana, teramat jauh dan tidak jelas jalurnya. Di antara kegamangan itu kami terus berjalan mengikuti setapak yang ada hingga sampailah kami di Kelok Kejut, kelokan yang tiba-tiba menyuguhkan sebuah pemandangan menakjubkan di depan kami.

Bermalam di dekat Coban Wilis
coban wilis
Kolam air terjun Coban Wilis
Tas kami letakkan dan segera minum air sumber yang begitu segar. Makanan kami keluarkan. “Sing penting maem sik, masalah nenda kita pikirkan nanti,” celetuk teman-teman. Kami pun mulai memasak dan sholat bergiliran. Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di situ, ada tanah datar cukup untuk satu tenda meskipun malamnya kami harus tidur dengan kaki ditekuk dan dan tidak bisa bebas bergerak. Sempit. Setelah makan malam, kami ngobrol lalu tidur.
Terbersit rasa takut waktu itu. Pertama, kami kemping pada Kamis malam Jumat yang pasti mitosnya macam-macam, tidak saya utarakan dan coba saya pendam dalam-dalam. Tapi kalau mau pipis saya tetap minta antarkan Mbak Ifa atau suami saya Mas Arief. Hehe.. Ketakutan kedua ialah karena di belakang, depan, dan sisi kanan tenda kami adalah tebing. Di sisi kiri kami jurang. Haha, apa-apaan ini. Bagaimana kalau longsor?!
coban wilis
Aktivitas kami di Coban Wilis
Malam itu menakjubkan! Kami tidur dalam gelapnya malam diiringi debur air terjun yang terdengar begitu merdu. Dan paginya SREET.. SREEETTTT.. ketika saya membuka pintu tenda dan mendongak ke samping kanan, tampak air terjun yang indah, membikin pagi kami ceria. Air pagi itu benar-benar BBBRRRRrrrrr…!!!
Kami nikmati waktu di sana dengan memasak, berfoto, dan yang pasti bermain air terjun berair super dingin ini. Bagi saya air terjun ini spesial, karena untuk mencapainya diperlukan perjuangan ekstra dan terletak di tempat yang sangat indah, sepi pula. Saya rasa airnya pun air sumber karena terletak jauh di ketinggian, berbeda dengan air terjun yang seringkali ditemui di bawah (yang sering jadi tempat wisata) yang berasal dari aliran sungai.
Alhamdulillah mbolang kami hari itu sukses, lancar tanpa kendala nyasar,  kekurangan air dan makanan. Logistik yang kami bawa cukup spesial dan membikin nikmat. Terima kasih Kawan, terima kasih alam Blitar, dan terima kasih Tuhan atas potongan surga ini.
Menu Makan Kami

Informasi Umum:
Coban Wilis terletak di lereng tenggara Gunung Kelud, tepatnya di Desa Semen, Wlingi, Blitar bagian utara (bisa ditempuh lewat Pujon-Ngantang-Selorejo kalau dari arah Malang). Lama perjalanan sekitar 4-5 jam, bisa dikurangi lagi kalau naik motor atau ngojek sampai ke Patokwesi.

Rute:
Desa Semen – Jalan Nanas – Kampung Aceh (Rumah Mbah Bejo) – Patokwesi – Pos Bakar Ayam – Pos Sepoi-sepoi – Pos Hore  - Tanjakan Galau – Kelok Kejut – Coban Wilis.

Tips:
Jika berniat kemping di sana sebaiknya kemping di Pos Hore, tanah datar sebelum tanjakan galau, terlebih bila ke sana pada saat musim hujan. Setidaknya sedikit lebih aman daripada di area air terjun yang dikhawatirkan longsor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar