04 Maret 2012

Cerita Mistis di Gunung


Banyak yang cerita kalau pernah mengalami kejadian mistis saat mendaki gunung. Rata-rata mereka cerita tentang kemistisan Gunung Argopuro, Semeru, Merbabu, Arjuno, Gede, Pangrango, dan Lawu. Mungkin juga ada cerita mistis di gunung lain tapi tidak saya ketahui.
Kalau saya mendengar atau membaca cerita-cerita itu kok rasanya jadi merinding sendiri. Namun, jujur saya belum pernah dan berharap tidak akan pernah mengalami hal demikian. Mari memulai ini dari satu gunung ke gunung yang lain.
1.    Gunung Argopuro
Ada beberapa tempat di gunung ini yang dianggap mistis, yakni Pos Mata Air I (jalur Baderan), Cikasur, Cisentor, dan Danau Taman Hidup. Kata seorang teman ia pernah melihat om poci di bawah pohon di dekat Pos Mata Air I. Dulu, Oktober 2006 saya dan dua teman cwe nekad malam-malam mengambil air. Posisinya agak menjorok ke bawah dengan jalan yang sempit. Terbersit rasa takut juga saat itu. Kami bertiga bergandengan tangan, dan saya bertugas paling bawah untuk mengambil air. Syukurlah tak ada apa-apa. Hanya ada sebersit rasa takut yang menghilang begitu cepat.
Lalu, katanya di Cikasur banyak pendaki yang suka diganggu oleh setan kepala, goyangan tenda, atau suara-suara. Tapi malam itu ketika baru tiba di Cikasur, saya dan dua teman cwe saya tadi langsung kedinginan. Shalat saja sampai gemetaran. Kegiatan masak memasak pun digantikan oleh Mba Weni dan Cak Bonsai. Lalu kami tidur, dan tau-tau sudah pagi. Tak ada yang mistis.
Cisentor, kata seorang teman ia pernah melihat beberapa poci saat mau buang hajat di sungai. Untunglah, dulu om poci tidak tertarik untuk mengganggu saya. Padahal saat malam dan subuh saya suka bolak-balik ke sungai sendirian untuk ambil air, pipis, atau wudhu.
Dan terakhir, Danau Taman Hidup. Menurut mitos, tempat ini paling seram. Kabut suka tiba-tiba datang, apalagi ada yang berteriak-teriak. Seorang teman dari Probolinggo juga pernah cerita kalau di sana adik didiknya pernah kerasukan juga. Danau ini katanya menjadi tempat favorit Dewi Rengganis. Katanya, Dewi Rengganis suka mengganggu para pendaki pria melalui mimpi, misalnya diajak naik sampan atau diajak bersetub*h. Kembali ke cerita saya, waktu itu saya jalan sendirian mendekati danau, teman-teman saya ada di depan dan beberapa ada di belakang. Lalu seorang pendaki dari Jakarta menyusul langkah saya dan bertanya, “Ga takut jalan sendirian, Mbak?” Saya pun menjawab tidak. Saya tidak tahu harus takut akan apa. Dan posisi saya waktu itu tidak tahu menahu mengenai mitos-mitos yang ada di sana. Saya malah asik bermain air di danau indah itu. Mungkin kalau sekarang disuruh naik lagi ke sana pasti lebih was-was. ^_^

2.    Gunung Semeru
Katanya kalau di Gunung Semeru banyak tante kunti yang berjajar di pinggir jalur jika ada pendaki yang berjalan saat magrib. Biasanya sering ditemui di jalur Pos I atau II. Selain itu ada juga cerita mistis di Danau Ranu Kumbolo. Katanya kalau pagi hari suka ada makhluk bertubuh pendek yang mandi si sisi danau sebelah kanan (tenggara). Seorang teman (Mas Andri) juga pernah bercerita mengenai pengalamannya saat di Kalimati. Kalau tidak salah ia diganggu oleh harimau mistis yang mengelilingi tendanya dan memainkan tabung gas sehingga timbul suara berisik.
Saya sih tidak pernah mengalami hal aneh-aneh di Semeru. Tapi saya pernah merasa agak takut di sana, kira-kira akhir tahun 2009, bersamaan dengan acara Napak Tilas Soe Hok Gie. Saya datang ke sana  hendak kemping di Ranu Kumbolo bersama Mas Arief. Lalu ada kabar bahwa salah seorang peserta napak tilas meninggal di jalur Kalimati-Kumbolo saat dibawa turun. Saat itu kami masih di rumah Pak Ningot, salah satu warga Ranupani dan tim SAR TNBTS. Nah Pak Ningot malah cerita, katanya mitos warga di Ranupani, kalau ada orang meninggal di suatu tempat, arwahnya masih akan berada di situ sampai tujuh hari. “Hati-hati aja mbak, arwahnya masih di Ranu Kumbolo” katanya. Hwaa….! Baru deh saya merasa agak takut. Tapi selama sehari semalam di sana Alhamdulillah tidak ada sesuatu mistis pun yang mengitari kami.
Saya merasa takut justru saat berjalan pulang ke Ranupani. Pukul 2 siang kami baru mulai turun dari Ranu Kumbolo. Pendaki-pendaki yang lain sudah turun duluan. Belum menjelang magrib memang, tapi hutan terasa sudah gelap dan menyeramkan. Saya tidak mengatakan apa pun kepada Mas Arief dan ia pun tak bicara apa-apa kepada saya. Tapi masing-masing dari kami merasakan hawa tidak nyaman ini. Kami siasati itu semua dengan menyanyi bersama dan berusaha jalan lebih cepat. Syukurlah, sebelum magrib kami sudah tiba di Ranupani, mandi-mandi, lalu bobo di rumah Pak Ningot.

3.    Gunung Arjuno dan Welirang
Pertama kali naik ke Gunung Welirang tahun 2005. Sebuah tragedi pun terjadi, salah seorang teman sempat hilang entah ke mana saat turun dari puncak. Kami baru mengenal pendakian gunung waktu itu, dan tragedi ini membuat kami kalut dan tak tahu harus bagaimana. Kaka senior pun membawa kami turun. Dalam perjalanan turun itu salah seorang teman wanita merasa selalu diikuti tante kunti yang terbang dari pohon ke pohon. Untungnya saya tidak melihatnya.
Lalu di waktu yang lain saya ke sana lagi. Saya punya kebiasaan untuk pipis sebelum tidur. Kalau tidak pipis maka saat tengah malam saya akan terbangun dan ingin pipis. Nah terjadi juga saat saya camp di pos Pondokan. Dua teman saya tidak ada yang mau mengantar saya (huh!) padahal saat itu kira-kira pukul 2 pagi. Ingin pipis di luar tenda kok rasanya tak nyaman. Meskipun sudah malam, masih ada saja yang melek. Terpaksa saya turun ke mata air untuk buang air di sana. Sepi, gelap, dan sendiri. Alhamdulillah tidak ada apa-apa. ^_^
Dan Arjuna, yang katanya ada pasar setan, pasar malam, lalu suara gamelan yang suka didengar pendaki, hutan lali jiwo yang bikin tersesat, Alhamdulillah saya juga tidak mengalami peristiwa mistis. Perjalanan dari Puncak Arjuno sampai ke Pos II (Jalur Purwosari) membuat kami sangat lelah dan cepat tidur malam itu. Keesokan paginya pemandangan Gunung Semeru sudah di depan kami.

4.    Gunung Merbabu
Yakin, saya tidak mengalami hal-hal mistis di gunung ini. Saya sempat takut tiga kali saat pendakian ke sana Desember 2008, pertama saat baru mulai mendaki  (jalur Wekas) karena melewati makam malam-malam (pukul 9 malam). Kedua, subuh hari ketika saya mau pipis dan teman-teman belum bangun. Saya pun nekad pipis di balik semak-semak. Hihi.. Dan ketiga, ketika tiba waktu magrib saat tersesat dan melenceng jauh dari jalur pendakian Selo. Suasana magrib selalu aneh. Untung kami berhenti dan duduk sejenak.

5.    Gunung Pangrango
Lagi-lagi Alhamdulillah karena tak sekalipun mengalami hal mistis baik mulai awal pendakian sampai puncak pangrango, kembali ke kandang badak, ke Gunung Gede, dan turun lewat jalur Gunung Putri. Padahal kalau menurut cerita, di gunung ini ada tante kunti, setan kaki besar, dll. Sebersit rasa takut pastilah ada, yakni saat mendaki bertiga (bersama Mba Ika da nom Cepot) ke Puncak Pangrango. Jalan menanjak, hutan rimbun dan gelap, dan hari sudah sore. Sebelum magrib kami sudah tiba di Mandalawangi. Selepas magrib barulah kami turun lagi ke Kandang Badak. Dan om cepot menyuruh saya di barisan paling depan. O..oo.. semoga tidak menyenter sesuatu yang aneh. ^_^
Tapi saya pernah dengar cerita begini. Seniornya suami saya di PA dari Purworejo dulu pergi ke Cibodas. Niatnya mereka akan mendaki gunung, tapi ternyata ditutup padahal sudah jauh-jauh dari Jawa Tengah. Akhirnya mereka ijinnya cuma kemping di Taman Mandalawangi yang di Cibodas itu. Peta pun dibuka, kompas disiapkan, dan ditembuslah jalur-jalur tak resmi untuk mendaki gunung tersebut. Nah dalam perjalanan itu mereka sempat menemukan berbagai hal mistis. Pertama, mereka melihat orang-orang kerdil yang keluar dari batang pohon tidak lama setelah pohon tersebut tumbang. Katanya sih itu adalah makhluk pengikut Kartosuwiryo. Ada juga saat mereka mau mengejar hewan buruan, eh tahu-tahu kepala binatang itu berubah jadi manusia. Lalu ada juga salah satu personelnya yang merasa diikuti oleh seseorang, ia pun mengambil batu dan melemparkannya ke belakang. Sesaat kemudian seolah-olah ada yang menariknya dan ia terjatuh di batu yang ia lemparkan tadi.

6.    Gunung Penanggungan
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang berkali-kali mengizinkan saya untuk bisa mendaki ke Gunung Penanggungan. Selama beberapa kali mendaki ke sana saya juga tidak pernah mengalami pengalaman mistis sedikitpun. Mungkin hanya muncul sebersit rasa takut, tapi bukan karena ada gangguan mistis, hanya takut karena gelap dan sepi. Tentunya itu terjadi jika mendaki hanya berdua.
Saya mendaki ke sana bersepi-sepi ria sebanyak dua kali, biasanya selalu ke sana ramai-ramai. Kali itu saya pergi hanya berdua dengan adik kelas saya (cowok) tapi ia belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Saya mendaki malam hari. Sampai di pos perhutani (jalur Tamiadjeng) tiba-tiba angin menjadi kencang, mendung datang disertai petir, dan gerimis. Kami bimbang mau lanjut ataukah berhenti dulu menunggu cuaca membaik. Jujur waktu itu saya agak takut, tapi karena mendakinya dengan adik kelas yang belum pernah mendaki saya gengsi dong mau bilang takut. Saya juga khawatir nanti dia ikut-ikutan takut.
“Mau lanjut ga?” tanya saya sok berani. Hehe…
“Nanti dulu mba, asmaku suka kambuh kalau kena hujan,” jawabnya. Ya sudah kami ngobrol-ngobrol dulu tentang banyak hal.
Tidak lama kemudian sepertinya mendung dan angin sudah bergeser. Cuaca kembali bagus dan serasa sejuk. Rasa takut pun ikut pergi jauh. Kami berjalan dan terus berjalan mendaki. Tadinya dari start sampai pos ini saya selalu kelelahan, tapi setelah istirahat di pos tadi tiba-tiba kaki saya seakan kuat jalan terus. Nafas sudah normal.
Seingat saya waktu itu kami tidak membawa tenda. Kami berniat tidur di goa kecil yang ada di sisi jalur pendakian beberapa meter sebelum puncak. Ya, hanya kami berdua menghabiskan malam, tanpa gangguan setan.
Mendaki hanya berdua kembali saya lakoni dengan seorang teman asal Gresik. Niat awalnya sih mendaki sendiri ke Penanggungan. Tapi tiba-tiba dia mau gabung. Kami mulai mendaki sore hari kira-kira pukul 4. Cuaca buruk. Kami ditemani badai terus menerus. Otomatis sampai di goa itu pun sudah malam dan angin masih saja berhembus sangat kencang, kabut tebal. Ah sepinya… Tak ada yang mistis. Alhamdulillah.
Malah tempat yang membuat saya merinding itu di perladangan dan start awal pendakian karena ada makam di sisi kiri. Dulu sih pas pertama muncak ke Penanggungan kaget karena ada sebuah makam yang ditutupi kain putih. Tapi lama kelamaan jadi terbiasa.
Kata seorang teman sih yang serem itu jalur Jolotundo karena di sana banyak candi dan lebih dikeramatkan. Tapi saya tidak tahu karena seya belum pernah melewati jalur itu pada malam hari, pernah siang hari tapi hanya sekali.

7. Gunung Merapi (Jogja)
Seorang senior bernama Pak Kusworo pernah bercerita tentang pengalaman mistisnya di Merapi. Pernah ia dan rombongannya didatangi seorang penjual jajanan, minuman, dan pisang saat mereka sedang berada di Pasar Bubrah. Saat itu sedang sepi pendaki (aneh aja pas sepi kok ada penjual) karena bukan hari besar seperi Suro. Teman-teman Pak Kus tidak menyadari hal itu. Mereka asik saja membeli minuman dan makan pisang. Sedangkan Pak Kus sendiri tidak mau beli (agak sadar). Selepas itu merekapun turun ke Selo. Saat itu mereka lapar dan hendak pulang. "Eh aku masih punya pisang," kata teman Pak Kus sambil merogoh saku celana. Dan ternyata yang ada ialah potongan ibu jari manusia. Dan terhoek-hoeklah mereka semua (muntah). Pak Kus bilang, "Kalau pisangnya ibu jari berarti minuman yang kalian beli tadi darah". Tambah hoek-hoeklah semua. Hehe...

Note: Intinya, saya percaya bahwa makhluk-makhluk itu ada. Namun mereka berada di dunia yang berbeda dengan kita. Yang perlu kita perhatikan justru persiapan fisik, perlengkapan, dan mental, serta tingkah laku kita: jangan suka berbicara sembarangan, jangan mengambil sesuatu sembarangan, jangan bergaul sembarangan. Mari mendaki dengan rendah hati! Jauhkan kesombongan dari dalam diri, dan tetap shalat bagi yang muslim. Saya yakin, selama kita tak bermaksud buruk, maka hal buruk juga tidak akan menghampiri kita. Insya Allah.

19 komentar:

  1. sering sich kalo aku dapet kejadian aneh2 kayak gt,
    a.waktu pendakian ke gunung welirang 2001,ngecamp di pet bocor waktu malam hari aku terbangun tiba2 da cahaya terang di depanku tapi aku gak tau asal cahaya itu,kayaknya aneh banget cahayanya kayak lampu yang sangat terang,alhasil akhirnya masuk tenda lagi aja trus tidur
    b.tahun 2005 pendakian seorang diri ke gunung penanggungan,waktu malam hari suasana sepi bangetkalo gak salah hari jum'at waktu mau cari kayu bakar deket batu besar di basecamp lapangan sebelum puncak tiba2 muncul sosok 4 orang pake baju serba putih muncul didepanku,alhasil gak jadi cari kayu bakar drch

    BalasHapus
    Balasan
    1. trus orang pake baju putihnya kemana n ngapain mas?

      Hapus
  2. aq pas pendakian k argopuro sering tuh ngecam d Taman hidup,,
    diksarnya junior aj d taman hidup,,
    tpi ...

    Banyak kejadian aneh.. :)
    slah satu junior d dampingi oleh roh halus mulai dari hutan damar dan tag tau i2 ap.. :)
    aq baru tau ketika udah nyampeg di taman hidupnya,,
    pas dia sedang jerit",, ada cwek cantik memakai selendang di samping junior q..
    wiuhh,, mrinding.x bukan main..

    munkin i2 yg namanya dewi rengganis,

    BalasHapus
    Balasan
    1. serem ah... hehe...
      untung ga diajak jadi pendamping di istananya ya

      Hapus
  3. Assalamu.alaikium mbak Nurul... Nggak sengaja nemu blog ini pas googling profil gunung penanggungan. Awalnya ga tau ini Blognya sampean... Pas liat Profil n fotonya kayaknya pernah tahu...

    Ini kan yg nge-wall treking penanggungan di fanpage Wisata Purbakala kemarin... :)

    Dari info blog ternyata mbaknya udah senior dlm hal daki mendaki (kalo dibanding aq yg baru sekali hehehe...)

    Kalo mbaknya mau naik (terutama penanggungan) ajak2 ya... :)

    Salam kenal :)

    Twitter > @beludrumerah
    FB > Putu Norma Yustisia

    Izin follow and add friend ya... :)

    BalasHapus
  4. Assalamu.alaikium mbak Nurul... Nggak sengaja nemu blog ini pas googling profil gunung penanggungan. Awalnya ga tau ini Blognya sampean... Pas liat Profil n fotonya kayaknya pernah tahu...

    Ini kan yg nge-wall treking penanggungan di fanpage Wisata Purbakala kemarin... :)

    Dari info blog ternyata mbaknya udah senior dlm hal daki mendaki (kalo dibanding aq yg baru sekali hehehe...)

    Kalo mbaknya mau naik (terutama penanggungan) ajak2 ya... :)

    Salam kenal :)

    Twitter > @beludrumerah
    FB > Putu Norma Yustisia

    Izin follow and add friend ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam wr. wb.
      Iya saya yang sebar racun ke orang-orang mengenai Gunung Penanggungan. Ada kok beberapa post saya di blog ini mengenai perjalanan kemarin menelusuri gunung suci penanggungan.

      Walahh mbak saya senior apanya... hehehe...
      Oiyaa kayaknya saya belom bisa naik gunung lagi, belum tahu sampai kapan, ya minimal 2 atau 3 tahunlah, soalnya sekarang saya lagi hamil ^_^
      coba kontak temen2 wisata purbakala (Mas Jen, Ms Trisno, Dian, dkk)

      Salam.

      Hapus
  5. Mbak yang di gunung penanggungan tu pos nya bukan jalur tamiadjeng
    Tapi tamiajeng gk pakek (d) kallleeee.........

    BalasHapus
  6. Di gunung penanggungan jalurnya tamiajeng bukan tamiadjeng gk pkek (d) kalllee

    BalasHapus
  7. Mendaki gunung dgn rendah hati,tdk mengganggu merusak yg ada di hutan berdoa insya Allah aman

    BalasHapus
    Balasan
    1. siiipppp :)
      tapi kadang ada juga orang yg rendah hati tetap merasakan hal2 itu, kelebihan mungkin ya :)

      Hapus
  8. anton alakadarnyaSenin, 31 Desember, 2012

    salam kenal

    BalasHapus
  9. bernai banget nih cewek..salam kenal

    BalasHapus
  10. Salam Lestari,
    08 Maret saya dkk melakukan pendakian di gunung lawu (magetan)kami memulai pendakian jam 20.00 lewat jalur pendakian cemoro kandang. kita berangkat 5 personil dan alhamdulillah waktu jalan dari bascamp lancar tapi dari pos 1 sampai pos 2 kita ketambahan 1 orang tanpa rupa dan bentuk pas dihadapan saya tuh orang jalannya dia ikut jalan juga, ketika saya senterin hilang tuh orang, kami memutus kan berhenti sejenak untuk minum dan niatan buat tuh orang biar jalan duluan, ehh dan ketika kami melanjutkan jalan kembali tuh orang malah pindah di paling belakang dan itu temen saya yang merasakan bahwa dibelakang ada orang yang jalan dan orang tersebut adalah orang yang yang tadi dihadapan saya. sesampainya di pos 2 kita memutuskan untuk mendirikan tenda dan alhamdulillah kita berlima kembali diganggu dengan suara2 aneh, keesokan harinya kita bangun tidur jam 10 pagi (hehehe maklum anak2 yang susah bangun pagi + udara yang sejuk menambah suasana tidur nyaman)jam 13.00 kita memutuskan untuk jalan kembali dan sesampainya di pos 5 magrib (ada teman yang sakit menjadi lambat perjalanan) pas di pos 5 (pasar setan) kita sedikit bingung karena banyak simpang dan kita istirahat sebentar, nah disitu kembali deh 3 orang teman merasakan keanehan lingkungan sekitar (gaduk/ada yang aneh2 dll) sementara saya dan salah satu teman tidak merasakan apa2 ketiga temen langsung memberi kode dan kami langsung tanpa basa-basi langsung otw melanjukan perjalanan.
    intinya satu, kita manusia memiliki dunia sendiri dan mereka juga memiliki dunia sendiri. dimana kita tidak mengganggu ketenangan mereka maka mereka tidak akan mengganggu kita. walau kita hidup bebas di alam akan tetapi harus memiliki batasan. terima kasih,

    BalasHapus
  11. klo saia kan emank terlahir bisa liat hantu tante nurul, jadi klo ketemu golongan mereka yah malah saia sapa, klo pas saia sapa tpi dia malah gremeng ya saia say good bye.. kekekekkek...

    BalasHapus
  12. Jadi ingat masa-masa kuliah waktu masih aktif naik gunung, pengalaman paling berkesan waktu naik gunung slamet lewat jalur blambangan purbalingga, naik cuma 2 orang , start dari base camp jam 5 sore, sampai hutan kaki terkilir hingga ndak bisa melanjutkan perjalanan (kira-kira jam 8 mlm), waktu itu teman bersikeras untuk terus naik akhirnya saya putuskan teman tetep naik dengan konsekuensi sendirian sedang saya menunggu ditempat saya terkilir(supaya pulang bareng lagi). jam 8 sampai jam 12 mlm ndak ada apa-apa (berusaha tidur tp ndak bisa) karena cuma pakai sleeping bag tanpa tenda. Jam setengah satu(1) hujan turun rintik-rintik lah disinilah mulai suasana mencekam....karena kecapaian saya sempat tertidur sayup-terbangun karena kaget mendengar suara perempuan menjerit-jerit menyayat banget...lihat jam msh jam 2 mlm, positif thinking (berusaha menenangkan diri) bahwa yg didengar itu suara moyet karena hutan msh lebat banget dan masih banyak pohon besar...akhirnya tak bawa rebahan sambil menunggu pagi eh....ternyata pohon yang buat saya berteduh ada yg menggoyang-goyang (indikasinya air dedauan banyak yg jatuh, beda dengan jatuhnya air gerimis)....rasa takut mulai datang, mau turun kaki masih sakit sementara kalau bertahan suasana betul-betul mencekam gelap banget sampai lihat tangan aja ndak bisa(karena lebatnya hutan slamet). akhirnya saya putuskan untuk tinggal sambil pegang golok(buat jaga-jaga)... untungnya suara semakin menjauh .... dan hilang dengan sendirinya...begitu adzan subuh saya putuskan untuk turun...dan Alhamdullilah sampai di Pos Blambangan dengan selamat....in memoriam juru kunci gunung slamet via Blambangan (purbalingga) Bpk Suheri(klo gak salah namanya)......kejadian ini ndak pernah saya ceritakan pada teman saya....begitu ketemu saya cuma bilang maaf saya turun duluan....

    BalasHapus
  13. DULUNYA AKU TIDAK PERCAYA SAMA BANTUAN DARI PERAMAL TOGEL,TAPI SEKARANG AKU SUDAH PERCAYA KARENA SAYA SUDAH MEMBUKTIKAN SENDIRI.BAHWA ANGKA YANG DI BERIKAN [4D] BENAR-BENAR TEMBUS [100%] ALHAMDUHLILLAH DAPAT [95] JUTA.DAN SAYA SELAKU PEMAIN TOGEL,DAN KEPERCAYAAN ITU ADALAH SUATU KEMENANGAN DAN SAAT SEKARANG SAYA TEMUKAN ORANG YANG BISA MENGELUARKAN ANGKA TEMBUS YAITU AKI-MINTANG….JIKA ANDA YAKIN DAN PERCAYA NAMANYA ANGKA TEMBUS ANDA BISA HUBUNGI LANSUNG AKI-MINTANG DI NOMOR[-085-242-379-777-] SAYA SUDAH BUKTIKAN SENDIRI ANGKA TEMBUSNYA*************TERIMAH KASIH##########

    BalasHapus