14 Juli 2010

Jalur Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng


Tulisan ini saya buat karena ada permintaan dari seseorang. Bukan cerita pendakian, melainkan tulisan tentang jalur pendakian ke Gunung Penanggungan via desa Tamiadjeng. Kebetulan saya belum pernah menuliskannya walau saya sudah beberapa kali mendaki ke sana via Tamiajeng. Semoga tulisan ini dapat membantu Anda yang membutuhkan informasi.

Desa Tamiajeng bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.

I. Dengan Kendaraan Pribadi
Jika Anda tidak malas menyetir sendiri silakan membawa kendaraan baik motor, mobil, ataupun sepeda. Jalurnya mudah. Dari perempatan terminal Pandaan ambil jalan ke arah Tretes/Trawas (Surabaya ambil kanan, Malang ambil kiri). Lalu mengikuti jalan saja ke arah Trawas. Desa ini tidak jauh dari wisata air terjun Dlundung. Jika Anda kebingungan silakan bertanya kepada orang sekitar yang sudah terbiasa dengan para pendaki. Anda bisa menuju ke warung Mak Ti, tempat para pendaki biasa makan dan menitipkan kendaraan. Tapi saya sarankan Anda tidak menitipkan kendaraan di sini karena masih jauh dari setapak pendakian. Lebih baik Anda lurus terus di jalan yang menuju G. Penanggungan sampai melewati pertigaan dua pertigaan. Tepat di pertigaan yang kedua, di warung rujak dan tukang tambal ban, Anda bisa menitipkan kendaraan. Pemiliknya sangat ramah dan baik hati.


II. Kendaraan Umum
Jika pilihan Anda adalah kendaraan umum, silakan naik angkutan jurusan trawas dari terminal Pandaan. Tarifnya Rp5.000,- s.d. Rp7.000.-. Biasanya Anda akan diturunkan di warung Mak Ti.

Memulai Pendakian
Setelah semuanya siap, perjalanan bisa dimulai. Jangan membawa snack terlalu banyak, secukupnya saja daripada memberatkan tas. Lebih baik sebelum mendaki Anda membeli nasi bungkus di warung Mak Ti biar di atas tidak terlalu repot. Gunung ini dikenal gersang, sehingga tidak ada sumber air. Jadi bawalah air untuk persediaan minum Anda.







Waktu normal penempuhan jalur ini sekitar 4 jam, tidak terlalu santai dan tidak pula terburu-buru. Ikuti saja jalan makadam - tanah - setapak itu meliuk ke kiri dan ke kanan. Lalu belok ke kanan di pertigaan kecil. Di pertigaan itu ada pohon (ga tau namanya) yang di dahannya ada goresan tanda panah, dan di depan pohon itu ada batu seukuran kompor minyak. Setelah belokan itu ya tinggal lurus terus ke atas. Setelah satu jam nanti akan ada pos peristirahatan.

Untuk mengecek Anda salah jalan atau tidak, perhatikan posisi Anda. Bila Anda berada di punggungan dan agak jauh di kiri kanan Anda ada bukit berarti jalan Anda benar.
Bari pos tersebut perjalanan masih sekitar tiga jam lagi. Jalurnya jelas sampai ke puncak. Separuh perjalanan masih melewati hutan (hutan tanpa pohon), separuhnya lagi batu-batuan terjal. Dari bawah ke atas medannya relatif terjal dan berbatu-batu.

Sekadar informasi, 15 menit sebelum puncak ada gua yang bisa ditempati untuk tiga orang (saya pernah enam orang :p ). Anda bisa bermalam di situ tanpa mendirikan tenda atau terus ke puncak dan mendirikan tenda di puncak. Pintu masuknya sempit, tapi di dalam Anda masih bisa berdiri. Terserah Anda saja. Puncaknya sangat luas, dan banyak ditumbuhi rerumputan.






Bila pagi datang rumput yang basah oleh embun itu akan berkilau-kilau betapa indahnya. Bayangan gunung yang kerucut terbentuk di sisi barat gunung (coba perhatikan sendiri). Perkotaan akan dapat Anda lihat begitu jelas tanpa aling-aling pepohonan. Pesan saya: jangan mengharapkan lautan awan!

Oya. saya biasa memulai perjalan di sore hari untuk menghindari terik matahari dan malam harinya bisa beristirahat.
















Selamat mendaki….


note: Ada sedikit perubahan. Saya baru tahu beberapa hari yang lalu. Pertama, sekarang sudah ada pos perijinan pendakian di depan kampus ubaya, biayaya Rp 3.000,-. Kedua, pos perhutani di tengah gunung itu sudah tidak ada lagi. Sekarang bentuknya hanya tanah lapang dan di sekitarnya pun sudah tidak dijadikan ladang.

Tulisan lain tentang Gunung Penanggungan:

  1. Candi-candi di Jalur Pendakian Jolotundo
  2. Journey to The Holy Penanggungan Mountain (edisi pencarian candy)
  3. Pameran foto menelusuri gunung suci penanggungan

38 komentar:

  1. bagus banget...penanggungan gak kalah seru ma gunung laenya...

    BalasHapus
  2. hehe... iya juga siy, tapi di penanggungan ga ada lautan awan :)

    BalasHapus
  3. apapun gunung itu...tetep akan menjadi aroma terapi untuk kembali lagi...:)

    BalasHapus
  4. yippyy..... Setidaknya latihan fisik :D coz ni gunung bikin kaki tuklek2. hihihi

    BalasHapus
  5. aahh....goa mengingatkan kenangan jaman smp....masih terekam jelas...

    BalasHapus
  6. @Goes Doel: SMP sudah blusukan ke gunung ya? wah senangnya....

    BalasHapus
  7. gunung penanggungan..jadi pengen kesana :)

    BalasHapus
  8. ternyata ini adalah blog e nurul..he he he

    BalasHapus
  9. thanks infonya yg sangat bermanfaat utk rencana sy ke penanggungan, semoga jadi catatan amal kebaikan mbak nurul.

    k. wahyu

    BalasHapus
  10. tertarik ke sana nih, kalo utk ke trawasnya lewat mojosari bisa kan..?

    BalasHapus
  11. Rul. Mlm ini aku naik. Thanks infonya ya
    DEWA

    BalasHapus
  12. Mbak ini saya juga mau naik... thanks yha infonya.. Hehehe

    BalasHapus
  13. kalau dari Jo;otundo bagaimana perijinannya dan rutenya???

    BalasHapus
  14. jadi ingat berdua di puncaknya, hehehe #2010

    BalasHapus
  15. Memang tertarik mendengar cerita Pendakian Gunung Penanggnungan. Kasih tahu rute perjalanan kalo dari gresik ke Tamiajeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dari gresik naik bus ke terminal Bungurasih dulu om... setelah itu naik bus ke pandaan..

      Hapus
    2. Terima kasih bu atas Infonya. Tapi kt Rencananya mau bawa siswa-siswi MTs sekitar 20 orang transportasi apa yg cocok utk kesana, rete perjalanannya, terus perijinannya gimana. "Makasih byk atas informasinya smg ini bermanfaat bg kt smua"

      Hapus
    3. Transportasi yang cocok bisa mobil bisa bus kecil carteran. Di depan pos perizinan pendakian Gunung Penanggungan itu kan ada kampus III Ubaya, saya lihat banyak juga yang bawa bus kesitu, berarti bus juga bisa masuk ke sana.
      Perizinan ada di desa tamiajeng, depan kampus III ubaya, langsung datang aja..
      Kalau ke sana dg kendaraan pribadi bisa lewat Pandaan-Trawas atau Mojosari-Trawas

      Hapus
    4. Makasih smg kt menapatkan kmudahan melalui informasi ini sekali lagi terima kasih.Ini adalah pnakian pertama. Salam Letari

      Hapus
    5. sama-sama pak..
      semoga sukses pendakiannya..
      Just FYI sabtu kemarin tgl 23-24 teman2 saya dihantam badai di penanggungan, kabut pekat dg jarak pandang cuma 1 meter. Akhirnya semua hanya bisa bertahan di sadel/ puncak bayangan. Untuk sekarang mungkin cuaca belum akan berubah. Ada baiknya menunggu perpindahan musim. Salam.

      Hapus
    6. Trima kasih Bu atas infonya sehingga rencana mungkin di tunda sampai bulan Juni saat anak anak liburan sekolah. selaki lagi terimakasih.

      Hapus
    7. naik sepeda motor ae cak... lewat cerme -> boboh -> menganti -> legundi -> krian -> mojosari -> ngoro

      ikuti papan petunjuk PPLH, selanjutnya tanya orang di jalan...

      Hapus
  16. Kok kayak familiar ama orang kaos biru di foto pos perhutani :P
    Posnya sekarang ilang hahaha

    fearfactor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu kan dirimu mas, hehehe...
      iya posnya dah gak ada.. pos kenangan, wkwkwkw

      Hapus
  17. kangen mambu gunung

    BalasHapus
  18. jalur terdekat kepuncak penanggungan lwat desa/ pos apa ya mbak, ds. jolotundo / ds. tamieajeng..?? terimakasih

    BalasHapus
  19. Ngomong-ngomong, kuburan di puncak itu miliknya siapa ya?

    BalasHapus
  20. Rencananya besok sabtu tgl 14 ada yg naek tidak??? coz sabtu itu saya mo naek ksana...

    BalasHapus
  21. Selamat sore mba' Nurul...Bisa antar saya ke penanggungan. Terimakasih :-D

    BalasHapus