16 Maret 2009

Mendaki Ego


Senyum adalah sesimpul bahagia yang terucap lewat guratan wajah. Terukir dari hati yang ikhlas dengan kerendahan hati...
Tangis adalah air mata pedih yang membasahi pipi, menitik, karena goresan luka di hati, sesak yang tak tertahan...

Sebuah pendakian kulakukan karena aku "ingin". Ingin yang berbagai macam bentuknya dan harus diwujudkan dengan berbagai cara. Salahkah jika kulakukan saat musim hujan? Toh ada banyak orang yang mendaki di saat musim hujan.
"Udan. Jangan sampai rasionalmu terkalahkan oleh ego," sebuah SMS masuk ke nomorku saat baru beberapa meter aku melangkahkan kaki menapaki jalan di gunung ini. Kalimat pendek yang bermetamorfosa menjadi badai yang membawa pedih ke dalam hati. Melakukan sesuatu hal tanpa dukungan seorang sahabat. Sedihnya... :(

Saat sahabat sudah tidak berarti dalam sebuah perjalanan
Saat ia tidak dibutuhkan lagi
Saat sendiri mulai merajai
Saat sendiri adalah kebutuhan
Itu hanyalah ego jiwa manusia



Benarkah aku egois Ya Allah? Sahabatku sendiri yang mengatakan hal ini...
Ampuni aku atas kekhilafan ini.
Terima kasih karena Engkau menganugerahkan aku teman, kakak, sahabat yang baik seperti mereka, sahabat yang selalu menegurku dalam salahku dan selalu mengajakku dalam berbuat kebaikan.
Aku sayang mereka Ya Allah...
Lindungilah mereka dari segala marabahaya, dan kumohon berilah yang terbaik buat mereka, Amin.

2 komentar:

  1. semoga mereka diberi jodoh yang baik..
    :P

    BalasHapus
  2. Sudah bertemu jodoh yang baikkah sekarang? hehehe...

    BalasHapus