26 November 2008

Nonton Film Pencarian Terakhir


Setelah mendapat kabar dari pos Jagawana G.Sarangan, Sita shock karena mendapat kabar bahwa Gancar adikya dan kelima temannya yang bersama-sama mendaki ke G.Sarangan belum lapor ke Pos I hingga melampaui waktu pendakian. Sita ditemani Oji segera ke sana untuk mencari mereka.

Sementara itu keenam sahabat yang mendaki gunung tidak tahu di mana posisi mereka. Mereka salah arah ketika turun dari puncak dan menemui pertigaan. Lebih parah lagi mereka terpencar-pencar dan diganggu oleh makhluk gaib. Mereka seakan-akan memasuki dunia lain yang angker di dalam hutan tersebut dan mengalami banyak peristiwa aneh.


Sebagai seorang sahabat, Bagus mengajak Tito yang pernah hilang di G.Sarangan bersama sahabatnya Norman yang hingga kini tak ditemukan mayatnya untuk membantu mencari Gancar dkk barsama tim volunteer. Setelah seminggu pencarian akhirnya mereka ditemukan dan Tito menemukan jaket sahabatnya, Norman.



Itu sedikit cerita tentang film Pencarian Terkhir. Maklum baru nonton kemarin. Dan dari film tersebut saya menemukan beberapa pelajaran yang dapat diambil:
1. Kita harus sopan dan beretika di manapun kita berada (Gancar dkk tidak sopan bermabuk-mabukan di gunung)
2. Jangan meremehkan hal-hal kecil yang bisa menjadi besar
3. Makhluk halus itu ada di sekitar kita tapi dia tidak akan mengganggu kita kalau kita tidak mengganggu mereka
4. Dalam kondisi yang darurat hendaknya selalu berpikir logis dan dengan kepala dingin
5. Kalau tersesat di hutan jangan berjalan terlalu jauh kalau tidak bisa orientasi medan, dikhawatirkan akan tersesat semakin jauh
6. Persahabatan yang tulus itu butuh bukti, bukan hanya kata
7. Di dalam pendakian kita harus punya persiapan yang mantap, siap menghadapi segala situasi kondisi di luar perkiraan kita
8. Berserah diri pada Allah SWt
9. Kayaknya saya terlalu cerewet, hehehe...

Film Pencarian Terakhir KEREN bo'.

21 November 2008

Puisi Putu Wijaya

Kemarin Putu Wijaya sastrawan yang terkenal karena karya-karyanya menghadiri kegiatan Bulan Bahasa di Jurusan Bahasa Sastra Indonesia, FBS UNESA. Beliau melakukan monolog yang merupakan bagian dari teater. Penampilan beliau begitu memukau sampai-sampai kami yang berada di dalam gedung itu terbawa ke dalam ceritanya, dada kami bergetar, tawa kami terbahak dengan ulah beliau. Sungguh sastrawan hebat. Karena masih belum terkumpul semua dokumentasi tentang beliau jadi saya belum membuat artikel lengkapnya. Nanti akan saya tulis dan upload fotonya...
Saya hanya menulis ini, sebuah puisi satu-satunya karya Putu Wijaya yang beliau akui, karena Putu Wijaya memang bukan seorang penyair. ^_^


Kalau kau cintai yang mencintaimu
cintailah dirimu
Kalau kau cintai dirimu yang kucintai
cintailah daku

(Putu Wijaya)

07 November 2008

Motor Baru


Motor ini baru kumiliki sejak awal Agustus lalu. Awalnya ayah ga berniat membelikan aku motor. Berhubung sekarang aku sudah kuliah, dan letak kampusku jauh dari rumah, yaitu sekitar 24 km, ayah lebih memilih membelikan aku motor daripada membiarkan aku tinggal di kost. Dulu aku sempat minta kost saja di dekat kampus karena kupikir aku bisa belajar mandiri dan ga manja lagi. Namun orang tua melarang keras permintaanku ini. Alasan mereka karena aku akan jauh dari pengawasan. Kata ibu beliau takut aku malah sering keluyuran karena beliau memang tau watakku yang "blakraan". Jadi deh aku dibeliin motor ini. :)

Beberapa kali aku sempat menginap di kost temen waktu ada acara di kampus sampai malem. Dan aku sering main ke kost mereka. Rasa-rasanya lebih enak di rumah. Semuanya terjamin dan paling tidak aku aman dari pergaulan yang kelewat batas karena aku akan selalu dipantau orang tua. Alhamdulillah...

Terkadang ada juga yang memberatkan hatiku. Yaitu efek trauma gara-gara dulu aku pernah ketabrak motor dan beberapa waktu kemudian ayahku yang kecelakaan dan ga sembuh-sembuh sampai hampir dua bulan. Hmmm... Sering sekali aku menyaksikan kecelakaan ketika aku di jalan sedang mengendarai motor. Saat itu pasti aku langsung gemetar dan deg-degan. Hwaahh.. ternyata rasa itu masih ada. Aku tidak pernah berharap hal itu akan terjadi padaku lagi. Aku ga mau kecelakaan mengganggu aktivitas kuliahku. Ya Allah... kumohon perlindungan-Mu atas jiwa dan ragaku yang lemah ini. Amin

05 November 2008

In Memoriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis


Beruntung sekali orang-orang yang mampu menggapai puncak Mahameru dan mencumbu pasirnya. Mencapai puncak bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh stamina dan mental yang kuat. Perjalanan jauh dan berat adalah perjuangan. Siapa yang bersabar dan bisa memanage waktu ia yang berhasil. Doa adalah kekuatan lain yang teramat berpengaruh pada setiap perjalanan. Agar perjalanan itu penuh berkah dari Yang Maha Kuasa. Puncak Mahameru… Puncaknya para dewa… Puncak pejuang-pejuang sejati… Puncak yang aku perjuangkan. Dan ini.. memoriam Gie di Puncak. Aku baru benar-benar sadar bahwa ini puncak ketika membaca barisan kalimat dari Sanento Yuliman untuk Gie dan Idhan Lubis. Aku mengagumimu Soe Hok Gie, dan aku senang bisa menggapaimu Mahameru.

Cara memanage waktu pendakian ke puncak Mahameru versi saya (versi setiap orang berbeda, bergantung kemampuan fisiknya, maklum saya jalan pelan sekali) adalah:

  • Camp terakhir di Kalimati, usahakan siang hari sudah tiba di sana dan melakukan aktivitas lainnya seperti mengisi air ke Sumbermani, memasak, dsb. Kenapa bukan Arcapada? Karena menurut saya trek ke Arcapada itu begitu terjal, akan sangat lelah menuju ke sana dengan membawa beban di punggung. Dan lagi saya rasa di Kalimati lebih aman.
  • Biasanya setelah salat Isya tepat waktu (sekitar pkl 7) saya langsung tidur setelah sebelumnya makan dan minum yang anget-anget, misalnya wedang jahe atau Tol*k Ang*n.
  • Pukul 11 malam bangun dan prepare ke puncak.
  • Pukul 12 malam mulai start jalan. Berdoa, menguatkan kaki dan mental, berharap semoga bisa tiba di puncak pagi hari nanti. Alhamdulillah..

Mendaki Gunung Panderman


Foto-foto bisa dilihat di sini.


Sore itu Sabtu, 1 November 2008, kami berlima: saya, Mz Dadang (Surabaya), Mz Arik (Pasuruan), Mz Dwi (Lawang), serta Mz Tovik (Malang) berkumpul di depan gapura wana wisata G.Panderman sembari menunggu Mz Anwar (temannya Mz Dadang) yang akan memberikan gambaran bagaimana jalur menuju puncak. Setelah ditelpon, Mz Anwar menemui kami dan mengajak kami ke rumahnya. Di sana kami ngobrol sebentar mengenai Panderman lalu menitipkan motor padanya dan segera memulai perjalanan kami menuju puncak.

Pos Retribusi
Saat itu pukul 19.05 kami berenam (tanpa Mz Anwar) mulai berjalan menyusuri aspal yang serasa tidak berujung dan tiap jengkalnya semakin menanjak. Tawa canda mengiringi perjalanan kami. Langit malam teramat cerah dengan cahaya putih yang berkelip seakan tersenyum pada kami. Tapi jauhnya itu lho kaga nahan. Pas pulang aku baru tahu kalau biaya ojeknya Cuma Rp 5.000,-/orang. Tau gitu kan aku ngojek aja. Hehehe… Kata Mz Anwar kami beruntung karena sudah dua hari ini Panderman tidak diguyur hujan sehingga jalurnya tidak akan terlalu licin. Dan semoga malam ini langit tetap cerah seperti hati kami yang penuh bahagia. Pukul 20.33 kami tiba di pos retribusi. Tiap orang membayar Rp 2.000,-.

Latar Ombo

Setelah istirahat kami melanjutkan perjalanan. Treknya berupa makadam datar dengan ladang di kanan kiri jalan. Kami menyempatkan mengambil air sebagai persediaan sampai puncak hingga turun nanti. Sumber air ini ada di sisi kiri jalan dan dipagari dengan kawat. Jalanan selanjutnya sudah tidak berupa makadam lagi dan mulai menanjak tapi masih taraf datar. Ketika menemui perempatan kami mengambil jalan ke kiri. Tidak jauh dari tempat tersebut ada pertigaan ditandai suara air muncrat dari pipa dan kami belok ke kanan. Kemudian akan ada pertigaan lagi di mana kalau ke kanan kita akan menuju ke sawah, jadi kami mengambil jalan ke kiri. Di pohon juga ada penunjuk arah menuju puncak. Setelah tempat itu jalur kian menanjak dan berbatu yang menguras tenaga. Sesekali kami beristirahat dan makan roti karena kami lupa makan malam di bawah tadi dan tidak membawa bekal nasi. Nafasku semakin berat dan jalanku semakin lambat. Mendaki tanah bekas hujan dua hari lalu yang kemiringannya tajam sebenarnya tidak terlalu berat, tapi sepertinya energiku sudah terkuras saat berjalan di aspal tadi. Pukul 22.11 kami baru tiba di Latar Ombo, sebuah tempat datar yang cukup luas. Di sana rupanya ada beberapa grup yang sedang berkemah.


Puncak Panderman
Kami tidak beristirahat di situ dan melanjutkan perjalanan. Treknya bervariasi, terkadang datar, namun tidak sedikit trek yang menguras tenaga. Pukul 22.11 kami tiba di Watu Gede I dan sepuluh menit kemudian ada Watu Gede II (Watu Poster). Kami terus saja berjalan karena nampaknya kabut mulai datang, semoga tidak hujan Tuhan….
Tanah-tanah bekas longsoran dengan kemiringan sampai 55o terus kami daki dengan pelan dan senyum. Sesekali kami beristirahat di bebatuan yang juga tertata apik. Pinus-pinus seakan mengerti lelah yang kami rasa. Ia gerakkan pelan dahan dan dedaunan yang memberi kesegaran. Kemudian jalanan mulai datar agak panjang di sisi bukit dengan jurang di sebelah kiri. Alang-alang dan rumputan membasahi kaki-kaki yang lelah. “Sebentar lagi puncak, Rul. Tuh di depan.” kata Mz Arik. Setelah berjalan lagi kok ga nyampek-nyampek yah, hehehe…. Capek!
Menanjak lagi dan lagi… Pukul 00.07 WIB kami tiba di sebuah tanah datar yang ramai dengan suara beberapa rombongan yang tiba lebih dulu. “Ini puncak, Rul,” teriak mz Arik lagi. Ha?? Ini puncak?? Sebuah tempat yang penuh rumputan dan pohon di sekelilingnya. Subhanallah… kubaringkan tubuhku di atas rumputan, kutatap langit dengan pesona beribu bintang. Tuhan, betapa bahagianya aku dapat mencumbu puncak yang kuperjuangkan. Kami segera buka tenda yang nyaman untuk berlindung dari udara dingin. Mie kuah hangat dan buah nangka jadi santapan malam sebelum kami tidur.
Aku heran dengan salah satu rombongan yang mendaki dan tidak mendirikan tenda. Apa mereka tidak berpikir bagaimana nanti jika tiba-tiba hujan datang, atau mereka tidak memikirkan nyamannya tidur di dalam tenda dengan balutan sleeping bag? Ah sudahlah.. saatnya tidur….

Hari II, 2 November 2008
Pagi hari itu orang-orang ramai berfoto dengan sunrise. Memang di sini view yang kami dapat tidak terlalu bagus karena tertutup dengan rimbunnya pohonan. Sarapan pagi lalu jalan-jalan sekitar puncak dan ngobrol dengan pendaki lain. Beberapa rombongan sudah banyak yang turun dan kami masih tetap di sini dengan satu rombongan lain bercengkrama hangat yang diselingi canda tawa.
Setelah packing serta perawatan muka dan kulit (perawatan itu perlu!) kami turun. Oya, jangan meninggalkan sampah ya! Pedih rasanya melihat bungkus-bungkus plastik berserakan di mana-mana . Seperti biasa, jurus-jurus narsis kami keluarkan di beberapa tempat. Kurang lengkap rasanya jika mendaki dan tidak mengabadikan setiap moment. :D
Pukul 10.20 kami sudah tiba di sumber air dan beristiaraht sejenak. Lalu aku melanjutkan turun dengan kaki yang teramat lelah sembari makan buah nangka di sepanjang perjalanan. Pukul 11 siang kami sudah di gapura wana wisata panderman, dan aku menghabiskan dua bungkus ice cream yang kuidamkan sejak awal pendakian.
Di rumah Mz Anwar kami mandi dan menyantap nasi tentunya, oh mz Anwar dikau pengertian sekali, hehehe… Terima kasih, Mz. ^_^
Sore hari setelah berkunjung ke rumah Gus Uddin tokoh wilayah setempat kami pulang ke rumah masing-masing. Aku tiba di rumah pukul 18.05 WIB dengan membawa lelah dan cinta yang ditancapkan pinus-pinus Panderman. Sahabat-sahabat alamku, terima kasih telah menemani perjalananku dan dengan sabar menungguku yang teramat lambat di setiap langkah.

28 Oktober 2008

Hari Ulang Tahunku.... Kangen JPers

(OOT) Happy B'day Nurul

2008/10/27 R. Goddess
Dear Nurul,
Happy b'day.......
Semoga semua cita dan cintamu dapat terwujud ya
Love
Riri Goddess
*Nurul masih update postingan dr yang lain nggak ya?



From: "JuppyĆ¢„¢ Putra"
Date: Mon, 27 Oct 2008 23:03:06 +0700
To:
Subject: Re: [JPers] (OOT) Happy B'day Nurul
heppi bertdei nurul,,, smoga panjang umur n sehat selalu n cita2nya tercapai,,, amiiin,,, :)

Juppy™ -....-


Happy b'day ya nurul...wish you all d best

Regards
Ryco Arnaldo
Http://rycphobia.multiply.com


-koHan-
phoenixbiru@...
Oct 27, 2008
4:03 pm
she's gone......

-koHan-
[kohan2282.multiply]



On 10/27/08, Rahmi Aulina wrote:
Happy Birthday Nurul...wah telat nih,,harusnya kan hari ini ulangtaunnya,,hehee..udah tinggal 1 jam lagi telat,.,ayoo ucapin sekarang yang belooom....hehehe...
kangen euy,..

amii -udahdaritadipagi-


From: Faries brownies
Subject: Re: [JPers] (OOT) Happy B'day Nurul
To: jejakpetualang@yahoogroups.com
Date: Monday, October 27, 2008, 4:31 PM
Met ulang tauuuunn....!! untuk nurul aneh... semoga bisa cepat menemukan jodoh,


Husnul Savana
Oct 27, 2008
happy brithday nurul....... sory telat

si bagus
sisatub
Oct 27, 2008
8:18 pm
Happy bes dei Nurul
smg sehat sll


"bunda bileN"
dieska78
happy b'day nurul...
panjang umur, moga sukses di school nya, cpt dpt jodohnya, amien
btw, nurul baca ga ya neh postingan....hehehe
elisa


"rete_juve"
rete_juve
ade uul met ulang tahun yah???maaf loh aku telat yah....


Itu adalah beberapa ucapan ulang tahun dari teman-teman milist JP di forum. Betapa terharunya aku menegtahuinya. Milist yang kutinggalkan dengan penuh cinta yang membuat aku menangis.... hmm.... terima kasih sahabat-sahabat alamku. Pantas saja banyak SMS met ultah masuk dari mereka, kukira mereka tidak akan tahu, ternyata aku salah. Mba Riri makasih yah....

Ucapan selamat ulang tahun sangat berarti bagiku karena itu menunjukkan mereka mengingatku, tapi bukan yang terpenting karena mungkin mereka ingat tapi belum sempat. Banyak sms dan telpon masuk, tapi yang membuat terharu adalah yang di forum, karena saat mereka mengucapkan kalimat indah itu aku sudah bukan member. Terima kasih JPers... Aku tetap mencintai JPers....

NB: Aku masih tetap mengup date postingan dari kalian di ilist... selalu... karena aku peduli kalian, love JPers....

14 Oktober 2008

Pertanyaan Aneh Wajib Jawab

Ada sebuah pertanyaan yang waktu itu aku SMS ke beberapa temen-temen. Pertanyaannya yaitu:Suatu hari sebuah perahu berisi Anda, kekasih Anda, dan sahabat Anda mau tenggelam karena bocor. Tidak akan tenggelam apabila salah satu dari kalian keluar dari perahu. Jika diharuskan memilih yang harus keluar, siapa yang Anda kekuarkan dari perahu tersebut dan apa alasannya?

Dan beberapa balasan SMS yang masuk antara lain:

JPers Dadank (081332575xxx)
Aq yg keluar.... coz berkorban untk orang yg kta cintai n sayangi itu sangat bernilai.

JPers Redi (08568529xxx)
Aku, krn aku bisa berenang sdagkan cwe ku ga bisa brenang, jadi biarin aja dia tinggal di perahu.

JPers Indra (08568825xxx)
buang pacar, pacar gmpang dicari. Kalo ogut yg ke laut aku khilangn kedua2nya. Klo buang sahabat mgkin qt gag akan ktmu lg shabat di bumi.

JPers ARief Ykt
Tukang perahunya aja ama tukang dayung yg suruh turun.. Kita tetep di atas. Khan mreka jago brenang.

JPers Os
Aku ajlah keluar krn k2nya adl org yg aku syangi.

JPers Fariez
Sbenernya sih gada yg prlu dikeluarkan, sbelum prahu bner2 tggelam kita bisa kok berusaha berbuat spy prahunya gak tenggelam, menguras air smbil brusaha mmbwa prahu ke tepian, kan di situ ada 3 org, dri situlah hrus belajar brusaha, jd ga prlu ada yg dikorbanin.

JPers Kohan
Sahabat. Karena dia brnama Nurul.. Anak Sidoarjo :P

JPers Nere (08195428xxx)
berdoa minta agr slamat smua.. klo ga ya dri sndri aja,smbil brharap yg lain tetep survive.

JPers Hero (08155199xxx)
gw yg kluar,, karena gw bisa berenang n bisa ilmu survival.

JPers Uchit (08567189xxx)
aku kluar krna aku jago berenang..... weeeee

JPers Amsi (08886130xxx)
yang paling ndut dunk

JPers Ami (085692314xxx)
Hmm.. trgantung sberapa syng aq sm pcar aku&shabatku..hehe. Klopcar jhat ma aku dan shbatku yah cemplungin ajah,klo ak yg jhat yah ak ja yg nyemplung.

JPers Doifani (085655300xxx)
Kgak bisa jwb gua klo ga kejadian bneran.

JPers Shanty (02199794xxx)
Klu dharuskan memilih lbih baik aq yg kluar,klu mmg umur msh ada pst slmat. Tp klu mmg ga ada umr, stidaknya matiku bs dkatakan mati syahid.

JPers Obie (085693208xxx)
Aq plih aq sendiri yg tgelam.biarkan pacar yg sdang mengandung anakku selamat n kelak sahabat terbaikku bisa jadi ayah dari anakku.

JPers Oyic (081553759xxx)
Yang akan ak kluarkan dan akan kulempar ke air adalah pacarku, alasannya krn aq ga punya pcar, jd ga tau pcar siapa yg ak lempar.hehe..

JPers Arif Gentong (08563026xxx)
ya tergantung. Nek gada yg mau ngalah yah hom pimpa ajah, kan adil.

JPers Cempluk (085664821xxx)
aku ajak pcarku berenang aja, biar shabatku ttp di kapal, coz aku n pacarku nanti hrus sama2 shati, he he he

JPers Wahyu (081330411xxx))
Situasi sulit tp aku memilih pacar yg aku kluarin,cari sahabat itu susah.




Ngakak juga baca balesan SMS dari mereka. Jawabannya aneh-aneh. Tapi bener-bener dari hati yah? maafkan daku teman-teman dah SMS iseng. Makasih juga udah mau bales SMS-ku


Siapapun yang baca boleh deh ditest dirinya sendiri. Jawabannya subjektif kok. Jawabannya juga boleh macem-macem OK

Peace


Nurul.aneh

08 Oktober 2008

Asal Muasal Hobi mendaki Gunung

Kemarin saat chat via YM ada seorang teman yang request ke saya untuk posting asal muasal hobi mendaki gunung di MP karena dulu dia sempat membaca postingan saya di milist #Pendaki. Wah… sebuah kehormatan bagi saya karena selalu diperhatikan oleh teman-teman. ^_^
Rumah kakek-nenek saya ada di daerah pegunungan, di daerah Pacet, Mojokerto. Saya masih ingat dulu ketika kami berkunjung ke sana kami harus melewati jalanan setapak berbatu dan berjalan melewati pematang sawah. Waktu itu saya masih lugu (lucu gendut :p), jadi terkadang saya minta digendong karena capek. Namanya juga anak kecil J. Tapi karena kami jarang ke sana kalau tidak pada saat lebaran, hal tersebut menjadi sangat istimewa. Saya sangat menyukai berjalan di atas batu-batu pegunungan, melompat dari satu batu ke batu lain (pilih-pilih batu) menganggapnya sebuah permainan yang sangat asik.

Tidak hanya itu, setiap kali berjalan pastilah mata ini tidak bisa hanya menatap ke depan. Mata ini selalu menatap sekeliling, menatap keindahan yang telah diciptakan-Nya, menatap puncak Gunung Welirang yang memukau. Ah saat itu saya jatuh cinta pada keindahan alam pegunungan. ^_^

Pernah suatu pagi Budhe saya akan pergi mencari kayu. Tiba-tiba timbul keinginan untuk ikut. Setelah minta izin ke Ibu, akhirnya kami berdua berangkat ke sebuah bukit kecil untuk mencari kayu bakar. Karena rumah Budhe di ats bukit kami harus menuruni lembah, dan di sana saya menyeberangi dua buah sungai, satunya cuma sungai kecil, tapi satunya sebuah sungai berbatu yang agak lebar. Saya yang masih anak ingusan kesulitan untuk menyebranginya. Tangan perkasa Budhe menuntun saya melompat di atas bebatuan kali yang hitam. Saya ingat betul waktu itu saya sempat jatuh saat melompat ke sebuah batu :p. Rok merah bermotif bunga-bunga yang saya pakai jadi basah :D. Pokoknya saya mengalami berbagai hal seru, dan saya ingin mengulanginya!!

Kemudian di SMA ada organisasi pecinta alam. Dan kebetulan teman sebangku saya juga suka dengan gunung. Alhasil kami berdua bergabung dalam organisasi tersebut. Dari situlah saya mengenal pendakian. Pendakian pertama saya ke Gunung Welirang, dan alhamdulillah walaupun capek dan kotor saya tidak pernah menyesal mendaki, bahkan saya semakin ingin mendaki ke gunung-gunung yang lain, bertemu teman-teman baru, mengalami kisah-kisah berbeda, mengambil banyak pelajaran, dan menambah wawasan.

Apalgi setelah kenal teman-teman pendaki dari internet, wah saya semakin keranjingan untuk mendaki. Sebentar-sebentar mendaki, huwaaaaaaahhhhh…… :D kan duitku jadi abis, hehehe….
Oya, terimakasih yah buat teman-teman sehobi yang saya kenal melalui internet. Saya mendapat banyak sekali wawasan, kenalan baru, tas baru :p, sepatu baru, :p, naik dibayarin :p, dan terlebih-lebih karena persahabatan dan perhatian kalian untuk saya. Saya bersyukur memiliki teman-teman seperti kalian. Kalaupun saya tidak bisa berbuat lebih untuk kalin, tapi bibir ini kan selalu terucap doa buat teman-teman. Semoga yang terbaik untuk kalian sahabat-sahabta alam….

07 Agustus 2008

Tiga Wanita di Gunung Lamongan

Foto-foto bisa dilihat di sini.

Minggu, 20 Juli 2008
Setelah trip pendakian G.Semeru bersama teman-teman dari JPers, Pendaki atau yang lain aku dan teman dari Probolinggo (udah janjian sebulan lalu) berniat melakukan pendakian kae G.Lamongan yang ketinggiannya sekitar 1600 mdpl dan terletak di Kecamatan Klakah, Kab Lumajang, Jawa Timur. Gunung ini memang tidak terlalu tinggi, tapi katanya gunung ini memiliki trek berbatu yang lumayan berat.
Berangkat dari Ranu Pane pukul 15.05 naik ojek (Pak Ingot) sendirian ke Senduro (Lumajang) Rp 50.000,-. Hutan di sepanjang perjalanan masih sangat lebat dan fantastik. Pak Ingot pun banyak bercerita tentang hutan, macan kumbang, makhluk halus, orang hilang, dll.
Tiba di Senduro pukul 17.10 lalu aku masih harus naik angkutan desa Rp 6.000,- ke jalan utama untuk mendapatkjan bus maenuju Probolinggo (rumah Mba Devim). Lalu aku naik bus Rp 8.000,- turun di terminal Probolinggo. Huwaahhh… semuanya kulakukan sendirian!! Mz Wiwid sih ndak ikut (hehe.. lagi sakit)! Nyampe terminal bingung mau kemana, aku ga tau rumah mba Devim, Hp q juga lowbat (tadi disuruh pak Ingot ngecharge ga mau) wah.. wah.. seperti kata om Jess, aku bandel!! Walau pulsa masih ada aku beli pulsa di deket terminal (demi bisa charge hp gratis).
Akhirnya aku bisa menghubungi Mba Devim dan dijemput di terminal pukul 19.35, wew… sambil nunggu aku maem nasi rawon + es teh segelas = Rp 8.000,-
Akhirnya aku menjejakkan kakiku di kota lagi dan tidur di atas kasur nan empuk. Alhamdulillah.. malam itu aku sempet chating (hobi euy), bobo jam sebelas malam zz..zZz..z.


Senin, 21 Juli 2008
Pagi hari aku ditinggal Mba Devim kerja, tapi aku ga sendirian lho.. aku ditemani Mey adik didiknya di PA. Aku diajak muter2, ke warnet, makan gratis (asyiikk..) trus bobo siang deh! Menjelang sore balik ke rumah mba Devim dan siap-siap!! Perjuangan akan segera dimulai!!

Menuju Pesanggrahan Mbah Citro
Sore itu setelah packing selesai, tim yang terdiri dari Nurul (JPers Sidoarjo), Devim (JPers Probolinggo), dan Mey (adik didik Devim di PA) berangkat dari terminal Probolinggo menuju Pasar Klakah dengan tarif Rp 6.000,-/orang. Setelah tiba di Pasar Klakah kami langsung naik ojek Rp 15.000,-/orang menuju desa terakhir atau pesanggrahan Mbah Citro (sesepuh di daerah tersebut). Jarak dari Pasar Klakah hingga pesanggrahan Mbah Citro sekitar 10 km. Tidak jarang para pendaki menuju rumah Mbah Citro dengan jalan kaki, karena takut kemalaman kami memilih naik ojek.

Pos Watu Gede
Setelah sowan (mampir) ke rumah Mbah Citro (minjem sendok coz lupa bawa) kami melanjutkan perjalanan (pukul 17.50). Awalnya kami melewati ladang penduduk dengan jalan yang datar-datar saja. Kemudian vegetasi berubah yaitu berupa savana dangan medan sedikit berbatu tapi masih taraf datar. Lha.. di sini nih yang temen-temen JPers ga tau, kami sempat hampir nyasar, bolak-balik di jalan yang sama hampir 20 menitan. Cuaca malam itu buruk banget, kabutnya tebal, jarak pandang hanya lima meter, dan angin sangat kencang sehingga arah tidak terlihat dengan jelas, apalagi rerumputan yang tidak teratur membentuk semacam jalan yang ternyata menuju arah lain. Untuk menghilangkan stres kami duduk2 dulu sambil nyanyi. Untungnya kami mencoba menyisir tempat itu dan menemukan jalan yang benar (tadi ga kelihatan, hehehe…).



Sebenernya nih waktu nyasar kami sama-sama takut, apalagi suasana mistisnya tiba-tiba muncul, tapi yah kami sama-sama diem biar ga tambah takut (tahunya pas ngobrol setelah pulang). Hehehehe… maklumlah cewek-cewek semua, dan tak seorangpun di gunung tersebut!
Setelah itu kami melanjutkan menuju Pos Watu Gede. Sebelum ke sana kami melewati tempat yang namanya cukup unik, yaitu Watu Keset. Tempat ini penuh dengan batu-batuan hitam besar yang terpencar penataannya yang membentuk semacam “keset” G.Lamongan. Untuk melewatinya harus berhati-hati agar kaki tidak terperosok di sela-sela bebatuan. Mulai dari sini penunjuk arah terlihat dengan jelas, yaitu berupa cat putih pada bebatuan di sepanjang perjalanan. Kami tinggal mengikutinya saja, dan kami tiba di Pos Watu Gede pukul 19.44 dan mendirikan tenda di sini. Ini adalah tempat yang datar dan bisa digunakan untuk mendirikan tenda dan ada sebuah batu yang sangat besar, karena itulah diberi nama Watu Gede (Batu Besar). Cuaca tidak membaik, bahkan lebih buruk. Di sini badai angin semakin besar, bahkan tenda yang di dalamnya ada Devim hampir saja terbang. Mendung semakin gelap mengitari G.Lamongan. Suasana gunung saat itu benar-benar sepi, gelap, tak satupun bintang mengintip.
Ngeri juga sebenernya gunung ini, tapi kami ga mau kalah, walau udah malem dan anginnya kenceng, kami tetap bercanda riang main api unggun (lupa bawa jagung euy L), dengerin musik dari radio butut milik Mba Devim, dan telpon bang Obie, hihihi.. Jam 11 malem kami baru bobo’ di dalam tenda bergoyang.

Selasa, 22 Juli 2008
Pukul 03.00 dini hari kami bangun untuk segera summit attack, tapi keadaan yang tak membaik dengan angin masih kencang dan puncak belum terlihat membuat kami enggan mengejar sunrise. Jadilah pagi itu kami membuat sereal dan makan roti dengan susu. Pukul 04.30 kami siap summit attack (malas-malasan, hehehe…). Kami hanya membawa bekal secukupnya, sedangkan barang yang lain kami sembunyikan di balik semak-semak. Kami tidak mau membawa beban terlalu berat karena medan menuju puncak juga berat. Segala perasaan jelek mengenai kemungkinan-kemungkinan terburuk berusaha kami hilangkan. Tenang adalah upaya kami..

Medan Longsoran
Awal perjalanan berupa batu-batuan lepas yang tiap diinjak akan menggelincirkan kaki. Lebar jalan kurang dari satu meter dengan ilalang di kanan kiri jalan. Setelah 1.5 km kami harus pasang gigi satu karena medannya sudah mulai 45o hingga ke puncak. Daerah longsoran batu atau sering disebut lereng penyiksaan (hehehe..) membuat langkah kami melambat. Beberapa kali kami brak bruk (jatuh) di sana-sini, tapi kami tetap senyuumm ^_^ sambil jogged-joged ria denger musik.


Medan Hutan Basah
Medan selanjutnya masih trek yang tajam kemiringannya, hanya saja kami masuk di areal hutan basah/lembab. Kalau di jalur ini meskipun kemiringannya tajam, tapi kami dimudahkan dengan adanya akar dan dahan pepohonan sebagai tempat berpijak atau pegangan. Jalurnya pun bervariasi, mulai dari bebatuan lepas, pasir, bebatuan tetap, bahkan tanah becek. Hutan G.Lamongan masih sangat rimbun. Di dalamnya seperti memasuki dunia lain entah di pulau asing mana. Semuanya begitu berbeda dengan beberapa ratus meter di bawah sana yang udaranya sangat panas. Saat memasuki hutan hari mulai terang, mungkin sekitar jam tujuh, tapi tak ada sinar mentari yang menyusup, semuanya tetap seperti pagi buta dengan kabut yang tak mau pergi. Kami sempat istirahat di Pos Guci. Dinamakan pos Guci karena ada sebuah guci yang diletakkan di bawah bebatuan yang berfungsi menadah air tetesan dari batu tersebut.
Hingga puncak medan didominasi hutan basah. Hanya ada dua atau tiga bonus saja bagi pendaki. Ada yang unik dari hutan ini, yaitu dua buah terowongan yang terbentuk dari akar-akar pohon dan dedaunan yang lebar dan tingginya sekitar satu meter, jadi untuk melewatinya kami harus tiarap (seperti mau perang aja, hehehe..)

Puncak Gunung Lamongan


Ada batu besar yang menandakan bahwa puncak sudah dekat, jarak pandang semakin pendek mendekati puncak karena kabut yang menebal dan angin yang kencang. Pukul 08.17 kami semua tiba di puncak. Rasa haru menyeruak di dada kami, sujud syukur kami persembahkan kepada Sang Penguasa Alam yang telah memberi kami kesempatan mencumbu puncak G.Lamongan.
Seandainya tidak tertutup kabut, dari puncak kami dapat melihat tiga buah danau dari atas, yaitu Ranu Klakah, Ranu Pakis, dan Ranu Bedali. Tapi kali ini kabut tak mau mengalah pada kami dan menutup semua pemandangan indah di bawah sana dengan hamparan putih. Meskipun begitu kami sangat bersyukur karena bisa tiba di puncak. Kami tetap berfoto-foto dan menghubungi beberapa teman terutama JPers yang mendoakan perjalanan kami dari jauh, tiga wanita sukses menggapai puncak. Kami juga sempet ngakak (padahal cwe) baca tiap SmS dari para JPers, terutama yang tidak berperasaan menyuruh Mba Devim melemparkanku ke kawah (sopo hayo..). Thanks yah buat temen-temen JPers yang buang-buang pulsa buat SmS kami, juga buat bang Obie yang rajin banget telpon (hihihi..)

Turun ke Pos watu Gede
Setelah sejam di puncak ngefrozh ‘n kedinginan kami memutuskan untuk turun, matahari yang ditunggu tak muncul walau sebentar (hikz). Kami turun dengan sangat berhati-hati dari puncak, bahkan kami sempat “ngesot” agar tak jatuh ke kawah karena takut angin menerbangkan tubuh kami. Kami turun melalui jalur yang sama, dan tampaklah betapa berat medan yang kami lalui saat gelap tadi. Aku hanya geleng-gelang kepala dan mengatakan, ”Jangan hanya melihat gunung dari ketinggiannya, tapi nikmati juga betapa berat dan susah mendaki dan turunnya.” Mendengar perkataanku Mba Devim dan Mey hanya tersenyum dan memberikanku dua jempol ^_^ tanda setuju, hehehe..
Setelah melewati hutan barulah pemandangan di bawah sana tampak. Dua buah danau berjajar seperti mata G.Lamongan berwarna hijau nun jauh di sana, yaitu Ranu Klakah dan Ranu Pakis. Lalu kami turun dan tiba di Watu Gede pukul 12.45, istirahat sebentar lau melanjutkan lagi ke Mbah Citro dan tiba pukul 13.50 dan singgah sebentar di sana.

Perjalanan masih jauh, kami harus menuju Pasar Klakah yang jaraknya sekitar 10 km dengan jalan kaki. Kami sengaja jalan kaki karena hari masih siang dan tentu saja buat menghemat dana :d 1,5 jam kemudian kami tiba di Ranu Klakah dan rehat sebentar menikmati hamparan air yang sangat indah dan panorama G.Lamongan sambil makan pentol ojek ‘n coca cola bawaan kami. Walau hari udah sore lagi ternyata kabut tak mau pergi dari G.Lamongan, sampai kami pergi puncak tetap berselimut kabut. Setelah itu kami pulang ke Probolinggo dengan bus. Total waktu dari Mbah Citro ke Pasar Klakah dua jam (istirahat tidak dihitung). Kaki seperti mati rasa. Turun dari Semeru oke2 aja, tapi turun dari G.Lamongan fuihh… tak bisa kugambarkan. Pukul 18.43 tiga wanita tiba di rumah Devim dengan selamat. Alhamdulillah..

Selasa, 22 juli 2008
Pagi setelah bangun tidur aku mandi tuk terkhir kalinya di rumah Mba Devim, packing kemudian sarapan jajan pasar sambil ngobrol dengan ibundanya Mba Devim. Lalu aku pamitan pulang, diantar Mba Devim ‘n Mey ke terminal Probolinggo. Pukul 10.11 bus yang kubayar Rp 13.000,- sampai terminal Bungurasih baru jalan. Siang itu aku sendirian menuju rumah tercinta. Ada bapak-bapak cerewet minta ampun di sebelahku, malah minta nomer Hp segala, ya jelaslah nggak aku kasih. Tapi kok aku nyesel yah.. harusnya kukasih aja nomernya Mz Kohan seperti saran Mz Wiwid (penyesalan selalu datang terlambat)!! Makasih buat orang-orang yang menemaniq chating di sepanjang perjalanan. Nurul yang imud ini tiba di rumah pukul 13.25 dan langsung menyerbu nasi sambel di meja. Alhamdulillah….

Pendidikan di Ranupani


Jika menyebut Ranupani pasti kita, terutama para pendaki yang hobi ke Semeru, langsung tahu itu adalah desa terakhir sebelum melakukan pendakian ke G.Semeru. Ranupane terletak di kaki Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur dan memilikaki panorama alam yang indah dengan bukit-bukit yang perkasa, serta dua buah danau yang mempesona, yaitu Ranu Pane dan Ranu Yoso.
Beberapa saat lalu saat melakukan trip Buser Semeru, tim bermalam di rumah Bu Nunuk salah seorang warga setempat. Pagi itu saat membantunya memasak di dapur saya mendapat sedikit informasi dari Bu Nunuk mengenai beberapa hal termasuk soal pendidikan di Ranupane yang membuat hati saya agak sesak dan ingin membaginya dengan Anda.

Hal yang saya ketahui adalah bahwa hampir 100 % warga di desa tersebut pendidikannya hanya sebatas SD. Saya terkejut tak karuan dan mengorek info lebih dalam. Menurut Bu Nunuk hanya beberapa orang, termasuk Bu Nunuk yang lulusan SMU dan itupun warga pindahan. Mengapa sebatas SD? Tentunya banyak alasan yang melatarbelakangi permasalahan besar ini.
Pertama, di desa Ranupane tak ada sekolah lanjutan (SMP/SMU). Jadi bagaimana anak-anak ranupane bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi bila sekolah yang mereka butuhkan tidak tersedia di sekitar mereka. Di Ranupane hanya tersedia sekolah TK dan SD saja. Dan hari belajarpun terpotong libur jika ada kegiatan adat dan juga hujan (walau hanya gerimis).
Kedua, letak desa Ranupane yang terpencil menyulitkan anak-anak dan warganya mengakses kendaraan ke daerah lain yang tersedia sekolah lanjutan. Bayangkan saja jika anak-anak Ranupane yang orang tuanya berprofesi sebagai petani harus membayar angkutan ke daerah lain dengan tarif transportasi yang mahal selama bertahun-tahun, tentunya hal ini sangat memberatkan orang tua mereka.

Ketiga, banyak yang mengatakan bahwa lulusan SD Ranupane kualitasnya berbeda jauh (lebih rendah) dari lulusan SD dari daerah lain, dalam artian lulusan SD dari desa Ranupane dianggap tidak “mumpuni” tuk bersaing di SMP dengan lulusan SD daerah lain. Pantas saja ada yang mengatakan seperti itu, tentu saja karena desa Ranupane sedikit sekali mendapat sentuhan teknologi dan juga masih ada pengaruh adat yang terkadang mengganggu kegiatan belajar-mengajar.



Kalau ditelaah lebih dalam mungkin lebih banyak lagi faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Tentu saja ini masalah besar bagi kita semua, kita yang sebangsa dan setanah air Indonesia. Ranupane… desa yang sering sekali dikunjungi para pendaki dari berbagai tempat di seluruh penjuru tanah air, bahkan mancanegara, ternyata pendidikannya terbelakang. Apalagi kalau kita melihat pembangunan-pembangunan yang dilakukan oleh pihak TNBTS dengan dibantu sponsor untuk memajukan kawasan Gunung Semeru sebagai tempat wisata tentu tidak sesuai dengan keadaan Ranupane. Seandainya ranupane berada di sebuah pulau terpencil di ujung Indonesia mungkin hal ini bisa sedikit dimaklumi, tapi ini??? Di kawasan yang dikenal, kawasan yang sudah akrab dengan kita!! Sungguh mengenaskan!

Dengan rendahnya tingkat pendidikan di Ranupane, warganya hanya akan berprofesi sebagai petani dan juga porter bagi pendaki. Akibat lainnya adalah si gadis yang putus sekolah ini menikah di saat usia mereka masih 12 tahun, dan si pria menikah di usianya yang baru 14 tahun. Masa remaja yang harusnya diisi dengan menimba ilmu dan mengenal dunia harus terganti dengan mengurus keluarga dan anak.
Saya jadi teringat perkataan Bu Nunuk yang sangat mulia, yaitu Bu Nunuk ingin sekali mendirikan sekolah SMP atau sederajat di desa Ranupane. Bu Nunuk sangat peduli dengan pendidikan di desa tempatnya tinggal. Namun, keinginan itu belum sempat diwujudkannya karena Bu Nunuk tidak tahu menahu tata cara untuk mengurus masalah pendirian sekolah. Yang bisa dilakukan Bu Nunuk saat ini adalah memupuk semangat belajar putra-putrinya untuk meraih pendidikan hingga sarjana. Selain itu Bu Nunuk juga mengabdikan dirinya mengajar TK di desa Ranupane.

Rumah Baca (Rumba) yang didirikan teman-teman milist Pangrango dengan disponsori XL di Ranupane ternyata sangat bermanfaat. Anak-anak mulai tertarik membaca dan menambah wawasan di Rumba tersebut. Sayang sekali kalau asset bangsa ini disia-siakan begitu saja. Jika teman-teman mempunyai buku bacaan anak-anak boleh disumbangkan ke sana. Jika ada ide demi memajukan pendidikan di Ranupane mari kita rumuskan bersama dan kita perangi segala sesuatu yang mengarah pada kebodohan.

Seorang pendaki, pecinta lingkungan, atau apalah kita menyebutnya bukan hanya mereka yang terobsesi menggapai atap-atap dunia, tapi juga mereka yang mengambil pelajaran dari apa yang dilakukannya, tidak egois, dan peduli lingkungan sekitarnya. Jika kita mengetahui soal ini dan kita hanya diam, berarti ilmu yang kita miliki belum bermanfaat, dan kita yang mengaku pecinta lingkungan atau pendaki belum dapat mengambil pelajaran dari apa yang kita lakukan. Semoga tulisan yang sederhana ini mampu mengetuk hati nurani Teman-Teman milist (termasuk saya) dan membawa manfaat. Amin.

Buru Sergap Gunung Semeru - 2008


Foto-foto bisa dilihat di sini.

Rabu, 16 Juli 2008
Terdampar di Terminal Bungurasih


Seperti rencana semula tim Buser Semeru akan memulai perjalanan tanggal 16 Juli 2008. Aku yang termasuk salah satu dari 30 personel berangkat ke Terminal Bungurasih pukul 10.30 a.m. seorang diri naik angkot Rp 5.000,-. Nyampe di Bungur aku langsung menuju halaman Musholla tempat tim dari Surabaya janjian. Wooo.. curang!! Nyampe sana cuma ada Mba Yuni (temennya Mz Hero), jadi deh kita berdua nongkrong di situ. Ga lama kemudian datang Mz wahyu ‘n Mz Kohan, lumayanlah agak rame dikit. Menjelang Dhuhur baru Mz Hero datang dengan membawa seabrek kaos trip Buser Semeru. Lama… lama… lama… Jendral Mbenk di mana?? Tim yang dari kota lain aja udah kumpul di Malang :d. Sekitar jam 02.00 p.m. Jendral datang trus ngangkut barang kami berempat (Nurul, Yuni, Hero, Wahyu), setelah itu barulah kami naik bus patas @Rp 15.000,-.
Dua jam kemudian tiba di Terminal Arjosari, menyempatkan shalat dulu trus menuju Tumpang dengan lyn TA @ Rp 4.500,-. Setelah magrib kami baru tiba di Tumpang dan disambut Jendral Mbenk ‘n Om Gonjess, lalu kami diangkut menuju rumah Pak Laman.

Menuju Ranupane
Tiba di rumah Pak Laman kami disambut temen2 yang lain, dan wuahhh…. Aku dapat kado spesial dari Mz Arif Ykt, jitakan di kepala yang tak kuduga (kurang ajyaarr!!) wah.. wah.. asik asik temen baru! Ternyata yang berangkat hanya 24 orang, lha… yang enam kemana atuh??
Selepas shalat Isya’ kami berdesak-desakan di dalam truk (@Rp 25.000,-) menuju Ranupane. Orang-orang pada rame, duduk susah, berdiri susah, mau kentut aja susah J.. Sekitar jam sembilan malam kami tiba di Ranupane, di sebuah toko kecil yang menjual berbagai barang, dan kami memesan nasi goreng di sini.
Lalu jendral Mbenk membawa kami ke rumah Pak Ingot. Malam itu kami bobo’ di sana. Oya kami kelaparan nunggu nasi goreng yang kami pesan di warung tadi, secara nasinya baru datang jam 11.25 p.m. ck..ck..ck.. Wahh.. malem itu dingin banget lho.. suhunya sampe 10o hehe.. lalu bobo’ deh..

Cerita dari Ranupani


Pagi itu setelah shalat subuh aku menuju dapurnya Bu Nunuk (istri Pak Ingot), aku lihat Bu Nunuk sedang sibuk menggoreng telur. Jadilah aku bantu2 di dapur. Di sini aku dapat banyak cerita dari Bu Nunuk:

Tentang upacara Unan-Unan : Ini adalah upacaranya suku Tengger yang berada di Ranupane. Diadakan setiap sewindu (delapan tahun sekali). Unan-unan adalah upacara persembahan di sanggar yang ada di desa, dilakukan selama dua hari. Hari pertama ada semacam tari-tarian di balai desa setempat, kemudian hari kedua ritual utama yaitu persembahan kepala kerbau oleh seluruh warga desa, hmm.. nih lupa2 inget yah kalo ga salah tiap keluarga diwajibkan membuat Jodang (tempat dari kayu) yang berisi seribu potong kue. Tanggal !7-18 Juli ini adalah waktu upacara Unan-Unan, tapi sayangnya kami ga dapat menyaksikannya.
Tentang Upacara Karo : Ini juga salah satu upacara suku Tengger. Acaranya biasanya beriringan dengan Idul Fitri (biasanya 10 hari setelahnya). Tata caranya adalah setiap keluarga membuat masakan, dan tiap keluarga harus berkunjung dari satu keluarga ke keluarga lain untuk makan masakan dari keluarga yang dikunjungi tersebut dan itu hukumnya WAJIB, kalo misalnya ga datang dia dianggap sombong dan langsung menjadi cemoohan warga. Masa berkunjungnya selama satu minggu. Wew… bayangkan aja satu orang harus makan di setiap rumah dari ratusan KK. Gendut pastinya!!

Pendidikan di Ranupane : Menurut Bu Nunuk pendidikan di ranupane hampir 100 % hanya sebatas SD. Fuihh.. memprihatinkan banget!! Hanya beberapa orang, termasuk Bu Nunuk yang lulusan SMU dan itupun warga pindahan. Mengapa sebatas SD? Karena di Ranupane tak ada sekolah lanjutan, selain itu letak desa yang terpencil dan akses kendaraan yang susah juga merupakan salah satu faktor, ada juga rumor yang mengatakan bahwa anak didik lulusan SD di Ranupane tak sebanding dengan lulusan SD di tempat lain, dalam artian anak-anak Ranupane terbelakang dari segi pendidikan

Kamis, 17 Juli 2008
Ranu Kumbolo


Sekitar pukul 09.10 a.m. kami tim Buser Semeru siap berangkat ke Ranu Kumbolo. Perijinan pendakian hanya sampai di kalimati saja. Tapi itu tak mengurungkan niat kami. Trek yang kita lalui tidak terlalu berat, masih berupa bonus-bonus panjang. Hanya saja jalur pendakian yang dulunya jalan setapak dengan rerimbunan di kanan kiri jalan kini berubah menjadi jalan yang sudah dipaving hingga beberapa puluh meter setelah Pos I. Setelah itu barulah jalur yang merupakan jalan setapak dengan rerimbunan di kanan kiari jalan. Trip dengan personel 25 orang membuat perjalanan jadi lebih asyik, walaupun lama-lama terpencar juga. Pukul 14.30 kami tiba di ranu Kumbolo dan memutuskan camp di sana karena hari sudah sore (target awal camp di Kalimati).
Di Ranu Kumbolo dulu hanya ada sebuah shelter, tapi kini di sebelahnya telah berdiri sebuah homestay yang telah dicorat-coret dan kotor, bahkan jorok di kamar mandinya. Mungkin ini salah satu bagian dari pembangunan oleh pengelola TNBTS.
Sore yang menyenangkan di Kumbolo, kami bernarsis ria, jeprat-jepret sana-sini ga karuan. Apalagi didukung suasana baru (baru kenal temen2 milist) yang lebih berarti buatku. Berkumpul di tendanya Mz Andri (Purworejo) bareng Mba Ayu yang rame, Mz Wahyu yang baik hati tapi narsis, Mz Uchit yang pendiem, Mz Arif Ykt yang aneh, juga Mz Tovik yang baik hati. Waahhh… rame deeh!! So. Gara2 itu Mz Andri ke PeDe-en tendanya dikunjungi, hehehe…

Jumat, 18 Juli 2008
Kalimati
Pukul 10.30 a.m. setelah sarapan dan packing kami siap menuju Kalimati. Wow.. hari sudah panas!! Aku berjalan pake payung yang kupinjem dari Om Gonjess. Duhh panasnya minta ampun deh, sampai2 enggan jalan. Apalagi pas nyampe Oro-oro Ombo, waahhh tambah kerasa panasnya. Temen2 temen yang lain lewat di bawah (savanna), sedangkan aku ‘n Om Jess memilih melipir bukit sebelah kirinya Oro2 Ombo. Setidaknya masih ada pepohonan di situ yang lumayan bisa ngurangin panas yang menyengat.
Kami tiba di Kalimati menjelang Ashar. Wahhh leganya!! Lumayan di kalimati angina gunungnya adem euy. Apalgi di bawah pepohonan yang rindang!! Siiip deh! Ritualnya biasa bikin tenda trus masak-memasak, hehehe… ga jauh2 dari makanan lah. Oh ya kami juga menyerbu mangga bawaan Om Jess dari Jakarta. Nurul buka jasa pengupasan mangga. Kan asik tuh tiap ngupas mangga aku dapat bagian bijinya “pelok”.




Jam 5 sore pas lagi makan di tendanya Mz Andri bareng Mz Hero, Mz Aripin, n mz Wahyu tiba2 terdengar suara orang teriak-teriak dari jauh. Wooooo pasti deh itu Mz Kohan yang janji mau nyusul trip kami. Ternyata benar, dia datang bareng Mz gentong ‘n mz Pramono. Gila,, tuh orang antusias banget datang2 menggemparkan makhluk2 di Kalimati.
Setelah ngobrol2 dengan mereka dan shalat Ashar aku langsung masuk tenda. Ga peduli yang lain masih ngobrol, bercanda, atau nyanyi2 seperti yang dilakukanh Mz Andre, aku mau TIDUR!! Ini demi Summit Attack ntar malem. Aku ga mau gagal lagi sampai puncak seperti setahun lalu.

Summit Attack Mahameru


Pukul 11 malam kami bangun dan siap-siap menuju Puncak Para Dewa. Membawa bekal snack dan minuman secukupnya, mempersiapkan apa yang kami kenakan mulai dari ujung kaki sampe ujung kepala agar tak menghambat perjalanan ke puncak. Dipimpin Jendral Mbenk selaku ketua rombongan kami melakukan doa bersama. Setelah itu kami beriringan berjalan. Awalnya aku berjalan agak di belakang. Karena menyadari kelemahanku yang mudah down kalo berjalan di belakang aku meminta berjalan di depan, tepatnya di belakang Mz Hero. Aku ga mau gagal lagi mencapai puncak mahameru seperti tahun lalu.
Sejam kemudian kami tiba di Arcopodo, istirahat.. dan Mz hero yang baik menghadiaiku secuil coklat karena aku bisa jalan rada cepet (biasanya lambat bo'). Makasih Mz Hero.. lalu kami melanjutkan perjuangan paling berat di Mahameru. Aku jatuh bangun di atas pasir-pasir dan bebatuan.. aku lelah.. aku lemah.. Aku tahu kemampuanku, fisikku tak sekuat pendaki lain. Tapi aku yakin jika aku terus berjalan, dengan semangat, denagan senyum aku akan tiba walau lambat. Masih ingat aku berjalan ditemani Mz yang baik hati banget, yang mengiringiku sejak Ranupane, yaitu Mz Tovik. Aku disemangatinya terus.. terys.. dan terus...!! Teman yang mengiringiku yaitu Mba Susan, mz Arif (yang sempet kukasih kentut spesial), mz Wahyu dengan minuman jahe angetnya....

Puncak Para Dewa




Pukul 05.30 aku menginjakkan kakiku di puncak.. ya Puncak Mahameru.. Rasa puas dan haru membuncah... semua muncul.. aku berjalan tertatih, aku menangis (hikz..)!! Huahhh... aku dapat sunrise!! kirain ga dapet!! Meskipun aku agak telat!! Mz Pramono menyambutku,, asiiikkk aku dipoto( hobi narsis). Tadi sempet ga yakin bisa dapat sunrise, tapi sejak di bawah tadi aku dah yakin bisa sampe Puncak!! Bbrr... dingin euy.. tingkahku di puncak ga karu-kauan! lari sana sini, poto kamera satu ke kamera lainnya, lompat2 ga jelas!! Alhamdulillah..

Akhirnya
Kurasakan jua keindahan itu
Saat dulu tak pernah kumengerti
Mengapa mereka tak pernah bosan menengoknya
Oh Puncak Gunung
Aku senang mencumbumu dalam lelahku
Oh Puncak Gunung
Mungkin saat ini aku telah jatuh cinta padamu

Ada yang lucu... aku masih ingat dengan jelas wajah Mz Andri purworejo pas nyampe puncak, hehehehhe.. sumpah lugu, melas, seneng yang jadi satu!! hihihi.. miss you mz Andri yang lucu..


Balik ke Kalimati

Tuhan
Aku kian mengenal itu kelemahan
Aku kian mengenal itu ketidakberdayaan
Semua itu ada padaku Tuhan
Dan semua itu tak pernah pergi dariku walau sekejap

Setelah puas di puncak aku turun ditemani Mz Tovik. Wah... asiknya semeru di sini nih... turun dari puncak serasa bermain-main pasir seperti saat masih kecil dulu. Aku memakai goggle n masker biar ga mengganggu proses turun, hehehe... Naiknya susah, tapi turunnya menyenangkan! Lalu aku segera ke Kalimati, aku lariii.. dodol!! ga bawa air! dehidrasi! udah nyampe kalimati (tapi belum nyampe shelter) aku teriak2 ke temen2," woooeee airrrrrrrr!!!" eh malah diketawain mz Sinyo,, woo dasar!!! Asik nyampe kalimati dapat mangga :), sapat coklat.. trus bobo deh di tendanya Mz Andri.

Balik ke Kumbolo
Tengah hari kami balik ke Kumbolo,, aku bareng Mba Susan, Mz Pramono, Mz Tovik, Mz Kohan, Mz Wahyu, n Mz Gentong!! Pas tiba di sisi bukit di Oro2 Ombo aku mintaditinggal sendiri.. di bawah sebuah pohon aku menikmati hembusan angin.. entah siapa yang kupikirkan saat itu, pokoknya aku kangen!! Sampe ada Om Jess barulah aku ke Kumbolo.
di Kumbolo aku memutuskan ga ikut turun bareng jendral Mbank. Aku mau nyantae2 dulu di Kumbolo karena aq ga dikejar waktu. Lagian aku sambil menunggu tanggal 21 coz mau ke G.lamongan ma temen dari Probolinggo. Jadi deh malam itu aku di Kumbolo berlima ma Cepot, Om Jess, Mz Obing, n mba Ike.

Minggu, 20 juli 2008
Balik ke ranupane n Menuju Probolinggo
Jam 11 siang kami berlima turun ke Ranupane. Maunya sih sambil nikmatin pemandangan, tapi apa daya perut mulezz, so cepet2 deh lari ke Ranupane.. hampir jam 2 kemudian aku tiba di rumah Pak Ingot, trus mandi.. kenalan ama cowok cakep (hehehe), trus segera pamitan ma teman2, dan segera melaju ke Senduro dengan ojek dengan tarif Rp 50.000,- tuk menuju rumah temen dan mempersiapkan pendakian ke G.Lamongan.